SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menegaskan Panginan Sukup Simpan bukan sekadar sajian kuliner tradisional, melainkan simbol ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Dayak yang perlu terus dijaga di tengah arus modernisasi.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Bupati Kotim, Wim Reinardt Kalawa Benung, menyebut Panginan Sukup Simpan merupakan warisan leluhur yang sarat makna filosofis, mulai dari rasa syukur atas hasil bumi hingga kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Panginan Sukup Simpan menggambarkan kekayaan bahan pangan lokal yang diolah secara estetis. Ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga identitas dan nilai budaya,” ujarnya, saat membuka Lomba Masak Khas Daerah Panginan Sukup Simpan di Sampit, Kamis, 12 Februari 2026.

Lomba yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim bekerja sama dengan TP PKK tersebut diikuti perwakilan dari 15 kecamatan. Kegiatan ini dinilai sebagai langkah konkret pemerintah daerah dalam melestarikan kuliner tradisional Kalimantan Tengah.

Wim menekankan, pelestarian kuliner lokal juga berpotensi mendorong ekonomi kreatif daerah. Dengan pengemasan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisi, Panginan Sukup Simpan dapat menjadi daya tarik wisata kuliner Kotim.

“Kuliner tradisional bisa bernilai ekonomi tinggi jika dikembangkan dengan tepat. Ini peluang bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, untuk mengolah bahan lokal menjadi produk unggulan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Disbudpar Kotim, Gusti Mukafi, menjelaskan Panginan Sukup Simpan kerap disebut sebagai tumpeng khas Dayak. Di balik tampilannya, hidangan ini merepresentasikan keseimbangan gizi, kebersamaan, serta pemanfaatan hasil alam secara berkelanjutan.

“Bahan yang digunakan berasal dari hasil kebun, ladang, sungai, hingga laut. Ini mencerminkan kemampuan masyarakat Dayak dalam mengelola sumber daya pangan lokal,” jelasnya.

Ia mencontohkan wilayah Teluk Sampit yang mengombinasikan hasil laut seperti udang dan ikan dalam satu sajian, sebagai simbol keberagaman sumber pangan yang diolah secara higienis dan tetap mempertahankan cita rasa asli.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Kotim berharap generasi muda semakin mengenal dan bangga terhadap warisan budaya daerah, sekaligus mendorong penerapan pola konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) di tengah masyarakat.