PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Direktur PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) Ronny Hertantyo Raharjo memaparkan target dan strategi bisnis tahun ini dalam kegiatan Kick Off Performance Plan Downstream 2026 yang digelar di Ballroom Hotel Mercure Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Sabtu, 14 Februari 2026.

Dalam paparannya, Ronny Hertantyo Raharjo menekankan 2 fokus utama perusahaan di tahun 2026, yakni pencapaian target kinerja dan penguatan people serta corporate culture.

“Pertama adalah memang tujuan target kita di tahun 2026. Kemudian yang kedua adalah people ataupun corporate culture. Corporate culture itu tadi ada empat, sudah dijelaskan oleh Bapak Direktur Utama. Jadi kita benar-benar jaga karakter kita, jaga people skill kita di tahun 2026 ini,” jelasnya.

Ronny menegaskan, aspek karakter dan kemampuan interpersonal karyawan akan menjadi perhatian serius manajemen, seiring dengan target bisnis yang semakin agresif.

Memasuki pemaparan target, Ronny Hertantyo Raharjo menyebut CBUT memiliki target besar pada 2026, baik dari sisi kelanjutan kinerja sebelumnya maupun proyek baru.

“Kalau kita lihat, yang pertama harus menjadi top of mind kita adalah mencapai utilisasi plant 100 persen. Itu adalah target, itu adalah hal yang memang harus kita capai di tahun 2026 ini. Kalau ini enggak capai, meleset target kita,” tegasnya.

Angka 100 persen bukan berarti memaksakan kondisi, tetapi menjadi pola pikir bersama bahwa seluruh tim bekerja dengan orientasi utilisasi maksimal.

“Bukan kita memaksa menjadi 100 persen, tetapi kita harus berpikir bahwa kita bekerja untuk 100 persen utilisasi. Kalau pun tidak tercapai, itu adalah keputusan manajemen demi mencari laba setinggi-tingginya untuk perusahaan yang kita cintai ini,” jelasnya.

Ronny juga menyoroti pentingnya jaminan suplai bahan baku guna mendukung kapasitas refinery yang mencapai 2.500 ton per hari, serta KCP 600 hingga 450 ton per hari.

“Kita harus meyakinkan bahwa suplai raw material harus full. Selain dari kebun kita di upstream seperti PT SSMS Tbk dan yang lainnya, kita juga menggunakan sourcing CPO dari luar. Ini harus kita push terus tim marketing untuk mencari raw material agar utilisasi bisa 100 persen,” jelasnya.

Ronny turut memaparkan perkembangan Refinery 2 yang progres pembangunannya telah mencapai sekitar 75 persen dan segera memasuki tahap pre-commissioning.

“Bulan ini kita lakukan pre-commissioning. Bulan depan atau awal April kita lakukan real commissioning. Diharapkan Mei-Juni kita sudah bisa komersial. Ini ada tambahan kapasitas 1.500 ton per hari lagi,” ungkapnya.

Selain itu, sektor komersial cooking oil juga menjadi fokus, khususnya untuk mendukung kebutuhan izin ekspor melalui skema DMO maupun PE.

“Kita punya bottling, molding, dan filling dengan kapasitas 200 ton per hari. Sebagian besar nanti akan masuk ke dalam botol Hanau. Kita akan fokuskan di Hanau karena di situlah kita mendapatkan profit yang besar. Tolong sukseskan produk minyak goreng dengan merk Hanau, baik distribusi maupun pemasarannya,” tegasnya.

Ronny menyebut promosi produk sudah mulai dilakukan, termasuk di kawasan Bundaran Pancasila Pangkalan Bun serta akan diperluas ke Palangka Raya dan kota-kota besar lainnya di Kalimantan.

Di sisi lain, Ronny Hertantyo Raharjo juga memaparkan strategi physical trading yang akan diperkuat pada 2026. Ia menjelaskan perbedaan antara trading online dan physical trading.

“Trading online itu transaksi di atas kertas, tidak ada fisiknya. Tetapi tahun ini kita fokus ke physical trading. Artinya kita beli CPO dari luar grup, lalu kita ekspor dan dapat margin dari pembelian dan penjualan tersebut,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam aktivitas ekspor, perusahaan tetap harus memperhitungkan berbagai komponen biaya seperti levy, bea keluar, hingga biaya operasional lainnya agar margin tetap terjaga.

Ronny Raharjo berharap seluruh jajaran dapat memahami arah strategi perusahaan dan bekerja selaras untuk mencapai target 2026 dengan tetap menjunjung budaya kerja yang sehat dan profesional. (WAHYU KRIDA/R)