BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur mematangkan kesiapan menghadapi sejumlah potensi dinamika yang kerap muncul selama bulan suci Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri.
Salah satu fokus utama adalah pengendalian harga pangan serta kelancaran distribusi barang dan penumpang.
"Dari paparan yang kita terima, stok kebutuhan pokok cukup, harga masih stabil, dan distribusi barang serta penumpang tidak menunjukkan kendala berarti," kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim, Rafiq Riswandi, Sabtu, 14 Februari 2026.
Hal tersebut ia sampaikan usai rapat koordinasi dalam rangka menghadapi Tahun Baru Imlek 2026, Ramadan, dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Rapat tersebut melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), serta sejumlah instansi vertikal dan pemangku kepentingan, termasuk BMKG Kotawaringin Timur, KSOP Kelas III Sampit, operator pelayaran, BPS Kotim, hingga penyedia jasa peti kemas.
Menurut Rafiq, koordinasi lintas sektor ini menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas daerah, bukan sekadar agenda rutin menjelang Ramadan.
Beberapa isu krusial yang dibahas antara lain pengendalian harga pangan, keamanan dan ketertiban masyarakat, pengaturan lalu lintas, hingga kesiapan angkutan mudik dan balik Lebaran.
Hasil rapat menunjukkan bahwa meski terdapat kenaikan pada beberapa komoditas, selisih harga masih dalam batas wajar. Untuk sektor transportasi laut, pihak PT Pelni memastikan akan menambah dua armada kapal selama Ramadhan guna mengantisipasi lonjakan penumpang.
"Koordinasi arus mudik sudah dilakukan. PT Pelni menyampaikan ada tambahan kapal untuk mengakomodir peningkatan jumlah penumpang. Secara umum semua masih berjalan baik," ujarnya.
Rafiq menegaskan pentingnya kewaspadaan dan tindak lanjut berkelanjutan. Ia mendorong agar komunikasi dan kolaborasi antarinstansi terus diperkuat, mengingat potensi perubahan situasi di lapangan, terutama terkait cuaca dan distribusi logistik.
BMKG Kotim memprediksi kondisi cuaca pada Februari hingga Maret relatif stabil, khususnya dari sisi tinggi gelombang laut, sehingga aktivitas pengiriman logistik diperkirakan aman. Namun, ketergantungan Kotim terhadap pasokan dari luar pulau tetap menjadi perhatian serius.
"Cuaca bisa berubah sewaktu-waktu. Karena pasokan kita masih banyak bergantung dari luar daerah, gangguan distribusi bisa memicu gejolak harga. Kalau perlu, kita gelar rapat evaluasi mingguan atau dua mingguan agar kondisi tetap terkendali, aman, dan masyarakat merasa nyaman," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









