SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati mengapresiasi pembangunan rumah produksi dan galeri di SDN 4 Ketapang yang bersumber dari program Corporate Social Responsibility (CSR). Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut menjadi momen bersejarah bagi dunia pendidikan di Kotim.

"Rumah produksi dan galeri SDN 4 Ketapang ini merupakan CSR dari Bank Kalteng. Kami tentu sangat berterima kasih karena ini menjadi momen bersejarah, sebab ini pertama kalinya Bank Kalteng membangun rumah produksi di sekolah melalui CSR-nya," ujar Irawati, Sabtu, 14 Februari 2026.

Ia juga mengapresiasi inisiatif para guru yang dinilai mampu menghadirkan inovasi di tengah keterbatasan anggaran.

Pembangunan galeri dan rumah produksi tersebut tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan berwirausaha sejak usia dini.

"Saya sangat mengapresiasi para guru yang berinisiatif membangun galeri ini. Anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga diajarkan berwirausaha sedini mungkin," katanya.

Irawati menyoroti inovasi program Si Gembung (Siswa Gemar Menabung) yang diinisiasi sekolah bersama Bank Kalteng. Program ini dinilai sangat bermanfaat, terutama bagi siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

"Kita tahu kondisi orang tua saat ini banyak yang terbatas sehingga tidak sedikit anak hanya bisa sekolah sampai SD. Dengan adanya program Si Gembung, anak-anak diajarkan menabung sejak kelas 1 hingga usia 17 tahun. Saat mereka ingin melanjutkan sekolah, tabungan itu sudah siap dan ini sangat membantu," bebernya.

Selain Bank Kalteng, Irawati juga menyampaikan terima kasih kepada mitra dunia usaha lainnya yang turut berkontribusi dalam pembangunan di SDN 4 Ketapang. Ia menyebutkan dukungan perusahaan tersebut sebagai bentuk sinergi yang positif antara sekolah dan dunia usaha.

Irawati menegaskan, kolaborasi seperti ini sangat penting, terlebih di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Ia mengungkapkan bahwa anggaran pendidikan di Kotim terdampak pemangkasan hingga Rp90 miliar.

"Dengan adanya efisiensi anggaran yang cukup berat, inovasi seperti ini menjadi solusi. Bagaimana guru bisa mencari mitra untuk membangun sekolah, akhirnya kegiatan pendidikan tetap bisa berjalan dengan baik dan terbantu di tengah keterbatasan," pungkasnya.

Keberadaan rumah produksi dan galeri di SDN 4 Ketapang diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain di Kotim dalam mengembangkan inovasi pendidikan berbasis kolaborasi dan kemandirian. (DEWI PATMALASARI/R)