KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Kabupaten Kapuas tahun 2025. Dalam tabel yang ditampilkan pada publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kapuas 2025, terlihat bahwa komposisi belanja masyarakat masih didominasi kebutuhan makanan sebesar 55,99 persen, sementara bukan makanan 44,01 persen. Namun, jika ditelisik lebih rinci, terdapat fakta menarik sekaligus memprihatinkan terkait pola konsumsi rumah tangga.

Pada rincian jenis pengeluaran makanan, tercatat bahwa belanja untuk rokok dan tembakau mencapai 7,52 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding sejumlah komoditas pangan bergizi seperti ikan yang hanya 6,22 persen, telur dan susu 2,96 persen, daging 2,51 persen, serta buah-buahan 2,27 persen. Bahkan, pengeluaran rokok dan tembakau jauh melampaui belanja umbi-umbian yang hanya 0,47 persen dan kacang-kacangan 0,77 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rokok masyarakat Kapuas secara proporsional lebih besar dibanding beberapa kebutuhan sumber protein dan vitamin. Padahal, ikan, telur, susu, daging, dan buah-buahan merupakan komponen penting dalam pemenuhan gizi seimbang, terutama untuk anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Secara nominal, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Kapuas tahun 2025 tercatat sebesar Rp1.168.559. Dari jumlah tersebut, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp654.247. Jika persentase 7,52 persen untuk rokok dan tembakau dikonversikan, maka alokasi belanja rokok per orang per bulan berada di kisaran puluhan ribu rupiah, angka yang tidak kecil dibanding belanja bahan pangan bergizi tertentu.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa rokok bukan sekadar konsumsi tambahan, tetapi telah menjadi bagian rutin dari struktur belanja rumah tangga. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas gizi keluarga, terutama jika pendapatan terbatas dan alokasi belanja tidak proporsional.

Amri, warga Kuala Kapuas, mengakui bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan hariannya. “Sehari bisa habis sampai dua bungkus. Kalau tidak merokok rasanya kurang,” ucapnya kepada Borneonews beberapa waktu lalu.

Amri menyebut pengeluaran rokok memang cukup besar, namun sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Menurut Amri, dalam sebulan ia bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli rokok. “Kadang memang terasa berat juga kalau dihitung-hitung, tapi sudah terbiasa. Untuk makan tetap diusahakan cukup,” katanya. Pengakuan ini menggambarkan bagaimana rokok menempati prioritas tersendiri dalam pengeluaran pribadi.

Dari sisi kesejahteraan, tingginya proporsi belanja rokok dibanding beberapa bahan pangan bergizi menimbulkan pertanyaan mengenai kesadaran gizi dan kesehatan masyarakat. Jika sebagian alokasi untuk rokok dialihkan ke pembelian ikan, telur, susu, atau buah, maka kualitas konsumsi rumah tangga berpotensi meningkat.

Data BPS tersebut menjadi cerminan pola konsumsi yang perlu mendapat perhatian bersama, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat. Edukasi tentang gizi seimbang dan dampak kesehatan rokok dinilai penting agar struktur pengeluaran rumah tangga lebih berpihak pada kebutuhan dasar dan peningkatan kualitas hidup jangka panjang. (SABRIANOOR/j)