PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan perekonomian nasional di tengah tekanan ekonomi global. Salah satu instrumen yang diandalkan adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang dinilai mampu meredam gejolak nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Ekonom yunior Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah, Afif Muh Ramadhan Sudarmin, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp16.900 per dolar AS berpotensi menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, terutama terkait kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan terhadap pelaku usaha kecil.

“Dalam kondisi seperti ini, BI tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga. SRBI menjadi instrumen alternatif yang lebih fleksibel untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Afif, Sabtu, 14 Februari 2026.

Ia menjelaskan, SRBI memiliki fungsi ganda, yakni mengelola likuiditas perbankan sekaligus menarik aliran modal masuk ke pasar keuangan domestik. Dengan imbal hasil yang kompetitif, SRBI mampu meningkatkan minat investor dan membantu memperkuat nilai tukar rupiah.

Data BI menunjukkan outstanding SRBI turun dari Rp917 triliun menjadi Rp694 triliun pada Januari 2026. Menurut Afif, penurunan tersebut bukan menandakan pelemahan instrumen, melainkan strategi BI untuk melepas likuiditas ke sektor perbankan.

“Penurunan outstanding SRBI menunjukkan bank memiliki ruang likuiditas yang lebih longgar. Ini membuka peluang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan kredit, khususnya ke UMKM dan sektor padat karya,” jelasnya.

Dengan demikian, kata Afif, SRBI memungkinkan stabilisasi nilai tukar tanpa menekan penyaluran kredit maupun aktivitas ekonomi masyarakat. Roda perekonomian tetap bergerak meski tekanan eksternal masih berlangsung.

Meski demikian, Afif mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan. Inflasi tahunan yang tercatat sebesar 3,55 persen pada Januari 2026 menunjukkan adanya tekanan harga yang perlu diantisipasi, terutama dari kenaikan harga barang impor akibat pelemahan rupiah.

“Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci. Dengan sinergi yang kuat, stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi dapat dijaga secara bersamaan,” katanya.

Ia menegaskan, SRBI menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh, sekaligus melindungi masyarakat dan pelaku usaha dari dampak ketidakpastian ekonomi global.

“Artinya, perbankan tetap memiliki ruang menyalurkan kredit ke sektor produktif, sehingga aktivitas ekonomi dan pertumbuhan dapat terus terjaga,” pungkasnya. (MARINI/j)