BORNEONEWS, Tangerang – Atrial fibrilasi merupakan salah satu gangguan irama jantung (aritmia) yang paling sering terjadi dan berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat, mulai dari stroke, gagal jantung, hingga penurunan kualitas hidup.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital, Ignatius Yansen, menjelaskan atrial fibrilasi menjadi perhatian utama karena banyak penderitanya tidak menyadari kondisi tersebut.
“Atrial fibrilasi ini paling sering terjadi, tetapi banyak pasien tidak merasakan keluhan. Akibatnya, mereka merasa tidak perlu memeriksakan diri ke dokter jantung,” kata Ignatius, Sabtu, 14 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada atrial fibrilasi denyut jantung menjadi tidak teratur sehingga aliran darah yang dipompa jantung tidak optimal. Kondisi ini dapat mengganggu suplai darah ke otak dan memicu keluhan seperti pusing hingga sakit kepala.
Gangguan irama jantung ini, lanjutnya, dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari usia muda hingga lanjut usia, dengan gejala yang bervariasi pada setiap pasien.
“Spektrum usia pasien sangat luas, dan gejalanya tidak selalu sama,” ujarnya.
Ignatius mengungkapkan, jumlah pasti penderita atrial fibrilasi sulit diketahui karena banyak kasus tidak terdiagnosis. Namun secara global, prevalensi atrial fibrilasi pada kelompok usia di atas 80 tahun dapat mencapai 15 hingga 20 persen.
Risiko atrial fibrilasi juga meningkat pada pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, Obstructive Sleep Apnea (OSA), serta konsumsi alkohol.
“Pasien dengan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan OSA cenderung lebih cepat mengalami atrial fibrilasi. Namun, ada juga yang terjadi tanpa faktor risiko jelas, yang kita sebut idiopatik,” jelasnya.
Keluhan yang paling sering dirasakan penderita adalah jantung berdebar. Pada tahap awal, gejala ini bisa muncul jarang dan hilang timbul, bahkan hanya terjadi setahun sekali. Namun seiring waktu, frekuensi dan durasinya dapat semakin meningkat.
Ia juga menekankan bahwa tidak semua pasien datang dengan keluhan khas jantung. Beberapa justru mengeluhkan gejala lain, seperti sakit kepala, akibat berkurangnya aliran darah ke otak.
“Oleh karena itu, pemeriksaan dini sangat penting agar atrial fibrilasi dapat ditangani sejak awal dan risiko komplikasi dapat ditekan,” pungkasnya.
ANTARA









