BORNEONEWS, Teheran — Hizbullah menegaskan bahwa Iran menjadi sasaran utama permusuhan Amerika Serikat dan Israel karena perannya sebagai penghalang utama terwujudnya rencana ekspansionis “Israel Raya” di kawasan Timur Tengah.
Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, Ali Damoush, menyatakan bahwa karakter Islam dan revolusioner Republik Islam Iran menjadi alasan mendasar di balik tekanan politik, diplomatik, hingga ancaman militer yang terus diarahkan kepada Teheran.
Kantor berita IRNA, mengutip UniNews, melaporkan bahwa Damoush menyebut Iran sebagai satu-satunya negara yang tetap berdiri kokoh dalam poros perlawanan terhadap rezim Israel. Sikap tersebut, menurutnya, menjadikan Iran target utama strategi geopolitik Washington dan Tel Aviv.
Menanggapi potensi agresi militer terhadap Iran, Damoush menilai bahwa eskalasi konflik tidak sepenuhnya melayani kepentingan Amerika Serikat. “Perang melawan Iran saat ini, sebelum menguntungkan AS, justru lebih melayani kepentingan Israel,” ujarnya.
Ia juga menuding Tel Aviv berupaya menggagalkan proses negosiasi antara Teheran dan Washington, sekaligus menciptakan dalih politik dan keamanan guna memicu perang terbuka di kawasan.
Lebih lanjut, Damoush menegaskan bahwa Iran bersama kelompok-kelompok perlawanan yang tergabung dalam Axis of Resistance telah berhasil menghambat ekspansionisme Israel dan menggagalkan realisasi proyek “Israel Raya”.
Menurutnya, untuk mewujudkan dominasi regional Israel, langkah kunci yang ingin ditempuh adalah menyingkirkan Iran beserta sekutu-sekutu regionalnya. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut sejauh ini gagal karena perlawanan yang konsisten.
Di bagian lain pernyataannya, Damoush menggambarkan perlawanan sebagai sumber kekuatan utama Lebanon dalam menghadapi Israel selama lebih dari tiga dekade terakhir.
“Semua orang harus tahu bahwa rakyat kami tidak akan menyerah dan tetap bertekad memperjuangkan hak-haknya secara penuh,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa rakyat Iran, meski telah kehilangan banyak pemimpin dan putra terbaiknya, tidak akan meninggalkan jalur perlawanan serta capaian-capaian yang telah diraih.
“Perlawanan adalah hak yang sah dan akan tetap menjadi simbol martabat serta kebanggaan Lebanon. Tidak seorang pun, apa pun posisinya, dapat menghapus atau mencabut hak keberadaannya,” tegas Damoush.
Sumber: IRNA–OANA-ANTARA









