BORNEONEWS, Jakarta — Pemerintah Iran meminta Indonesia tidak khawatir menghadapi ancaman tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Iran menegaskan bahwa kerja sama bilateral dengan Indonesia tetap memberikan keuntungan ekonomi yang nyata.
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan tekanan tarif dari Amerika Serikat tidak perlu ditanggapi dengan rasa takut. Menurutnya, negara dan perusahaan yang menjalin hubungan ekonomi reguler dengan Iran justru akan memperoleh manfaat.
“Kami sampaikan kepada Indonesia untuk tidak takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Negara dan perusahaan yang bekerja sama dengan Iran akan mendapatkan banyak keuntungan,” ujar Boroujerdi dalam wawancara khusus di Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pada Januari lalu mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran.
Menanggapi kebijakan itu, Boroujerdi menyebut saat ini lebih dari 100 negara tetap memiliki hubungan ekonomi dengan Iran tanpa terpengaruh tekanan Washington. Ia menilai negara-negara berdaulat tidak dapat didikte oleh Amerika Serikat.
“Banyak negara merdeka percaya bahwa Amerika Serikat bukan raja dunia. Mereka tidak bisa memaksakan aturan kepada negara-negara merdeka seperti Indonesia,” katanya.
Boroujerdi mengakui bahwa sanksi dan ancaman tarif memang menimbulkan tantangan bagi perekonomian Iran. Namun, kondisi tersebut bukan hal baru bagi negaranya yang telah menghadapi sanksi berat selama lebih dari empat dekade.
“Selama lebih dari 47 tahun Iran hidup di bawah sanksi. Meski demikian, ekonomi kami tetap berkembang dan terus beradaptasi,” ujarnya.
Ia mencontohkan perkembangan signifikan Iran di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, teknologi, hingga ekonomi, jika dibandingkan dengan kondisi negara tersebut puluhan tahun lalu.
“Jika Anda membandingkan Iran hari ini dengan 75 atau 76 tahun lalu, Anda akan melihat kemajuan besar di hampir semua bidang,” kata Boroujerdi.
Lebih lanjut, ia menilai tekanan ekonomi dan tarif sepihak telah berdampak luas terhadap perekonomian global dan merugikan banyak negara. Namun, ia menegaskan bahwa negara-negara merdeka seperti Indonesia dan Iran justru perlu memperkuat kerja sama untuk menghadapi situasi tersebut.
Menurutnya, perluasan kerja sama bilateral maupun multilateral menjadi langkah penting agar negara-negara tidak semakin tertekan oleh kebijakan sepihak.
“Untuk melewati masa sulit ini, negara-negara harus memperluas kerja sama dan menunjukkan bahwa tidak ada satu negara pun yang berhak mengatur seluruh dunia,” tegas Boroujerdi.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tetap dapat bekerja sama dengan negara lain, namun tidak dapat menetapkan aturan sepihak bagi tatanan global modern.
ANTARA









