SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pembangunan Penerangan Jalan Umum (PJU) di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami penyesuaian desain. Jika semula direncanakan menggunakan PJU tenaga surya (PLTS), kini konsep tersebut diubah menjadi menggunakan jaringan listrik PLN.

"Awalnya ini dulu direncanakan dengan PJU tenaga surya. Setelah saya kaji dengan tim, tenaga surya ini ada batasan umur dari segi baterai dan piranti. Kami berdiskusi dengan beberapa penyedia mereka hanya berani memberikan perawatan atau pemeliharaan maksimal 4 tahun. Setelah 4 tahun kita harus memikirkan piranti-piranti tenaga surya itu. Jadi itu pertimbangannya sehingga kami kembalikan menggunakan KWH meter dengan PLN," kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Raihansyah, Minggu, 15 Februari 2026.

Perubahan desain tersebut juga berdampak pada anggaran. Jika menggunakan PLTS, kebutuhan dana diperkirakan mencapai Rp3 miliar. Setelah dialihkan ke jaringan PLN, anggaran proyek PJU tersebut menjadi sekitar Rp2 miliar lebih, sehingga menghemat hampir Rp1 miliar.

Selain efisiensi biaya, faktor keamanan juga menjadi alasan kuat beralih ke PLN. Raihansyah menyebut, PJU tenaga surya rawan pencurian aki dan panel serta pemeliharaannya cukup rumit. Sementara PJU PLN dinilai lebih stabil, dengan masa pakai sekitar 3–4 tahun dan hanya memerlukan penggantian bohlam.

Lanjutnya, ia merinci, jumlah titik PJU Jalan Kapten Mulyono dari simpang KFC hingga Simpang Pelita sebanyak 40 unit, sedangkan dari Simpang Pelita hingga Lingkar Selatan sekitar 42 unit, dengan jarak antartiang kurang lebih 40 meter di satu sisi jalan.

Untuk instalasi kabel, Dishub menerapkan dua metode. Dari KFC hingga Simpang Pelita menggunakan kabel udara karena di titik tersebut konstruksi jalan sudah banyak dicor. Sedangkan dari Simpang Pelita hingga Lingkar Selatan memakai kabel bawah tanah.

Pelaksanaan proyek tersebut direncanakan bertahap. Tahap perencanaan masuk triwulan II (April–Juni), sedangkan pelaksanaan fisik dilakukan pada triwulan III (Juli–September). Dengan skema ini, akhir tahun difokuskan pada pemeliharaan.

"Mudah-mudahan tidak ada perubahan karena kalau misalnya di tengah jalan ada pemangkasan anggaran lagi. Semoga ini bisa berjalan dengan baik dan anggarannya tidak terpotong di tengah jalan," ujar Raihansyah.

Adapun terkait biaya listrik PJU yang akan dikeluarkan, Raihansyah memperkirakan akan setara dengan PJU Jalan Pemuda-Pramuka sekitar Rp10–15 juta per bulan.

"Kalau berkaca dari PJU Jalan Pemuda dan Pramuka itu setiap bulan menghabiskan sekitar 10 hingga 15 juta listriknya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)