BORNEONEWS, Banjarmasin - Maraknya pertikaian yang berujung duel senjata tajam atau batimpasan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan kembali menjadi sorotan. Fenomena ini dinilai tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan budaya masyarakat Banjar, melainkan dipengaruhi berbagai faktor sosial yang kompleks.
Direktur Akademi Bangku Panjang Mingguraya, H.E. Benyamine yang juga pemerhati sosial asal Banjarbaru, Kalsel kepada Borneonews pada Minggu, 15 Februari 2026, menyebutkan bahwa tindak kekerasan yang terjadi belakangan ini lebih banyak dipicu oleh persoalan ekonomi, serta penyalahgunaan minuman keras dan narkoba. Menurutnya, faktor-faktor tersebut membuat seseorang kehilangan kontrol diri dan mengambil keputusan secara emosional.
Ia menegaskan, dalam tradisi Banjar memang dikenal kebiasaan memiliki atau menyimpan belati, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Namun, keberadaan belati tersebut sejatinya bukan untuk menyerang, melainkan sebagai simbol kesiapsiagaan dan alat pertahanan diri.
“Dalam nilai budaya Banjar, membawa belati selaras dengan semangat bela diri seperti kuntau, yang lebih menekankan pengendalian diri, bukan untuk melakukan kekerasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Banjar yang sadar budaya justru cenderung menjaga kedamaian dan menyelesaikan persoalan secara damai.
Menurutnya, fenomena batimpasan yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Pertengkaran yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog, kerap berlanjut karena ada pihak yang pulang mengambil senjata tajam lalu kembali untuk menyerang. Kondisi ini, katanya, bukan lagi cerminan budaya, melainkan dampak lemahnya kontrol sosial.
H.E. Benyamine juga menyoroti pentingnya faktor pendidikan dalam membentuk kesadaran budaya. Pendidikan dinilai berperan besar dalam membangun cara berpikir yang lebih rasional, sehingga konflik tidak selalu diakhiri dengan kekerasan. Ia menekankan bahwa harga diri atau kehormatan dalam masyarakat Banjar memang dijunjung tinggi, tetapi bukan berarti harus dibela dengan pertumpahan darah.
“Konsep kehormatan itu lebih pada menjaga martabat dan mempertahankan diri, bukan menyerang,” jelasnya.
Ia menilai, ketika kesadaran budaya kuat, masyarakat justru lebih memilih jalur hukum dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
Sebagai solusi, ia mendorong pihak berwenang untuk lebih rutin melakukan razia senjata tajam serta meningkatkan pengawasan terhadap peredaran miras dan narkoba. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan kembali menguatkan nilai-nilai budaya yang menekankan pengendalian diri, perdamaian, dan keharmonisan hidup bersama agar fenomena duel sajam dapat diminimalisir. (SABRIANOOR/H)









