BORNEONEWS, Sampit – Tugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak selalu berkutat pada penanganan kebakaran dan kondisi darurat. Dalam keseharian, petugas kerap menerima berbagai laporan tak biasa, mulai dari permintaan mengintai pasangan hingga membantu urusan sekolah.
Salah satu pengalaman unik disampaikan petugas Disdamkarmat Kotim Yolanda. Ia menceritakan, pernah ada seorang pria yang datang langsung ke Markas Komando (Mako) Damkarmat dengan maksud meminta petugas memata-matai istrinya yang diduga berselingkuh.
"Kejadiannya saat kami sedang apel pagi. Tiba-tiba ada warga datang dan meminta damkar mengintai istrinya. Karena itu bukan tugas pokok dan fungsi kami, tentu tidak bisa kami layani," ujar Yolanda, Minggu, 15 Februari 2026.
Selain itu, laporan tidak biasa juga datang melalui media sosial resmi Damkarmat Kotim. Salah satunya, permintaan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sekolah.
"Ada juga yang chat ke media sosial damkar, minta dibantu mengerjakan PR. Kami arahkan datang ke mako, tapi orangnya tidak datang," tambahnya.
Pengalaman serupa juga dialami Wulan, petugas Damkarmat Kotim lainnya. Dirinya bersama seorang rekan pernah diminta membantu mengambil rapor seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sampit.
"Pernah ada pelajar SMP yang minta tolong diambilkan rapornya. Saya berdua dengan rekan datang ke sekolah, dan ke gurunya kami sampaikan kalau siswa itu keponakan saya," tuturnya.
Cerita berbeda datang dari Ipit, petugas Damkarmat Kotim yang menerima laporan kebocoran tabung gas disertai percikan api. Laporan tersebut sempat membuat petugas waspada dan menurunkan satu peleton ke lokasi.
"Waktu itu kami turunkan delapan personel lengkap dengan perlengkapan penanganan kebakaran. Sampai di lokasi kami langsung pakai jaket karena khawatir terjadi ledakan. Ternyata hanya karena regulator gas tidak terpasang dengan benar," bebernya.
Tak berhenti di situ, laporan unik lainnya adalah permintaan memperbaiki keran air yang patah di rumah salah satu warga. Namun saat petugas tiba di lokasi, ternyata pemilik rumah tidak punya peralatan perbaikan.
"Kami juga tidak membawa alat tersebut. Akhirnya kami sarankan untuk memanggil tukang bangunan,” katanya.
Meski kerap menerima laporan yang tergolong di luar kewenangan, Disdamkarmat Kotim menegaskan tetap siaga selama 24 jam untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, warga diimbau agar melaporkan kejadian yang benar-benar bersifat darurat dan membahayakan, agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (DEWI PATMALASARI/H)









