SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin mengintensifkan kolaborasi dengan berbagai pihak guna mewujudkan daerah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sesuai Gerakan Indonesia ASRI yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

“Kami melaksanakan arahan Presiden dan instruksi Bupati Kotawaringin Timur. Jadi, penanganan sampah adalah kewajiban bersama. Arahan itu sebenarnya sudah kita jalankan, jadi tinggal meningkatkan kolaborasi," kata Kepala DLH Kotim, Marjuki, Senin, 16 Februari 2026.

Penegasan itu disampaikan Marjuki pada saat silaturahim dan pemberian arahan kepada petugas penyapu jalan di Depo Sampah 04 Kecamatan Baamang Kegiatan tersebut sekaligus menjadi persiapan menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pada 21 Februari mendatang.

Sebagai bentuk apresiasi kepada para pahlawan kebersihan ini, Marjuki membagikan seragam lengkap berupa celana, baju, rompi, dan topi secara bertahap kepada total 240 petugas, termasuk mereka yang bertugas di depo sampah dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Kami juga makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Mereka merupakan garda terdepan dalam kebersihan kota, khususnya di jalan-jalan maupun di depo sampah. Kita bersama menciptakan Sampit dan Kotim bersih untuk mewujudkan Indonesia ASRI,” tegas Marjuki.

Ia mengungkapkan bahwa kolaborasi mendukung Gerakan Indonesia ASRI telah dimulai sejak 13 Februari lalu dengan melibatkan DLH, Polri, TNI, dan OPD lainnya yang bersama-sama bergotong royong membersihkan lingkungan.

Pihaknya menekankan bahwa masalah sampah tak boleh hanya dibebankan pada pemerintah daerah saja.

 “Semua pihak harus terlibat dan peduli, termasuk dunia usaha. Ini selaras dengan tema HPSN yakni Kolaborasi Indonesia Bersih," terangnya. 

DLH Kotim mengestimasi volume sampah di seluruh Kotim mencapai lebih dari 445 ton per hari, dengan konsentrasi terbesar di Kota Sampit khususnya Mentawa Baru Ketapang dan Baamang sekitar 98 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah yang berhasil diangkut dari delapan depo sampah di Sampit mencapai 77 ton tiap hari.

“Artinya, kita berhasil mengurangi sampah rumah tangga melalui pemilahan, sehingga yang dibuang ke TPA hanya residu yang benar-benar tak bisa dimanfaatkan,” jelas Marjuki.

Guna mendorong keberhasilan ini, DLH terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah sebelum dibuang. Diharapkan hanya 30 persen residu yang masuk ke depo sampah, dan nantinya disortir petugas hingga tersisa 10 persen menuju TPA.

“Setiap orang rata-rata menghasilkan minimal 0,54 kilogram sampah per hari, dan memproses satu ton memerlukan biaya minimal Rp228 ribu. Jadi sekecil apapun dukungan masyarakat dalam mengurangi sampah sangat berarti,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa komitmen bersama melalui kerja sama tanpa saling menyalahkan sangat dibutuhkan untuk menciptakan Kotim dan Sampit yang ASRI.

Dalam pengelolaan teknis, DLH memanfaatkan 9 dump truck dan 4 arm roll, sementara kecepatan pengangkutan masih perlu ditingkatkan. 

“Kami berterima kasih atas respons baik dari Polri dan TNI. Kita saling mengisi dan melengkapi,” pungkas Marjuki. (DEVIANA/y)