BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur siap menggelar ajang budaya yang telah menjadi tradisi turun temurun masyarakat setempat, yakni Manuyang Anak atau yang biasa dikenal dengan Maayun Anak.

“Event ini merupakan event budaya yang harus terus kita lestarikan sebagai asset budaya daerah guna mendukung Sampit sebagai kota tujuan wisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim, Fajrurrahman, Minggu (18/12/2016).

Kegiatan itu akan berlangsung pada 21 Desember, dipusatkan di Islamic Center Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5 Sampit, dengan target peserta sekitar 100 orang.

Tradisi Maayun Anak sudah turun temurun dilakukan oleh kaum ibu dari zaman dahulu terutama pada masyarakat Banjar. Ayunan sendiri terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung-ujungnya diikat dengan tali.

Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun, kacang parang, katupat guntur, ketan kuning dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal roh jahat atau penyakit yang mengganggu bayi.

Mengayun anak ini ada yang mengayun biasa dan ada yang sambil badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang mengayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan.

Dalam tradisi ini, ayunan dihias dengan berbagai anyaman dedaunan, buah dan bunga agar terlihat indah dan menarik. Warga juga biasanya menyiapkan berbagai bahan yang terdiri dari beras, gula, telur, kelapa dan bahan lain yang nantinya diberikan kepada bidan yang membantu proses kelahiran sebagai ungkapan terima kasih.

Kegiatan Maayun Anak, menurut Fajrurrahman, merupakan tradisi dari Kabupaten Kotawaringin Timur yang patut dilestarikan ditengah perkembangan zaman yang saat ini sangat pesat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan oleh pemeluk agama Islam di daerah itu saat tibanya bulan Rabiul Awal atau Maulid Nabi seperti saat ini

Dia mengajak masyarakat Kotim terutama para ibu-ibu untuk mendaftarkan anaknya dalam kegiatan budaya Maayun Anak tersebut. (RAFIUDIN/m)