BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Komunitas film Layar Itah menggelar Eksibisi dan Apresiasi Workshop Film Pendek di Pangkalan Bun sebagai puncak rangkaian pelatihan yang melibatkan pelajar SMA dan SMK.
Kegiatan ini menjadi ruang penayangan sekaligus penghargaan atas karya-karya film pendek lokal yang diproduksi peserta setelah mengikuti workshop intensif selama tiga hari.
Workshop film pendek sendiri berlangsung pada 12–14 Januari 2026. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan menyeluruh tentang proses kreatif pembuatan film, mulai dari merumuskan ide, menyusun naskah, merancang konsep visual, hingga memahami tahapan produksi dan kerja tim di lapangan.
Ketua panitia sekaligus perwakilan Layar Itah, Budi Baskoro, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menyediakan wadah apresiasi bagi karya pelajar sekaligus membangun ekosistem film dan budaya di Kotawaringin Barat.
“Kami ingin menyediakan ruang apresiasi bagi anak-anak SMA dan SMK agar karya mereka bisa ditonton, didiskusikan, dan dihargai,” ujarnya, Selasa, 17 Februari 2026.
Sebanyak empat film ditayangkan dalam eksibisi tersebut, yakni Irama Ka Luka, Hari Nahas, (Ke) Honda, dan Kas RT. Keempat film ini merupakan hasil kolaborasi kreatif para siswa yang sebelumnya diberi pemahaman dalam pelatihan pembuatan film, mulai dari tahap perumusan ide hingga proses produksi.
Lalu, keempat film tersebut ditayangkan baru-baru ini Aula Sangga Banua Kantor Bupati Kabupaten Kobar.
Peserta workshop berasal dari empat sekolah di Pangkalan Bun, yaitu SMA Negeri 1 Pangkalan Bun, SMA Negeri 3 Pangkalan Bun, SMK Muhammadiyah Pangkalan Bun, dan SMK Negeri 1 Pangkalan Bun.
Keterlibatan lintas sekolah ini diharapkan mampu memperluas jejaring sekaligus memperkuat embrio komunitas film pelajar di Kotawaringin Barat.
Menurut Budi, banyak nilai penting yang diperoleh peserta selama mengikuti workshop. Selain kebebasan berekspresi dan berkarya, para siswa juga belajar tentang tanggung jawab terhadap karya, serta bagaimana mengkritik dan memberikan masukan secara bijak terhadap hasil kerja orang lain.
Ia menambahkan, tantangan paling mendasar yang dihadapi peserta adalah persoalan literasi. “Anak-anak akhirnya sadar bahwa film bukan hanya soal angkat kamera, syuting, mengedit, lalu tayang. Ada proses panjang dari penguatan ide, riset, penulisan, hingga eksekusi yang melibatkan banyak pihak,” jelasnya.
Sebagai bentuk komitmen, panitia juga memberikan pendampingan lanjutan pasca workshop. Dalam satu minggu, peserta mendapatkan bimbingan minimal dua kali untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai konsep yang telah disusun.
Budi berharap, kegiatan serupa terus berlanjut agar semakin banyak karya film lokal, baik fiksi maupun nonfiksi, yang lahir dari generasi muda. Ia menekankan pentingnya dukungan semua elemen, termasuk pemerintah daerah, untuk menyediakan ruang-ruang kreatif seperti workshop dan sayembara film.
“Kalau ingin film lokal tumbuh dan berdampak bagi kemajuan daerah, perlu kolaborasi bersama dan dukungan anggaran yang berpihak pada perkembangan perfilman di Kotawaringin Barat,” pungkasnya. (NURITA)









