BORNEONEWS, Palembang – Momentum perayaan Tahun Baru Imlek 2026 membawa berkah tersendiri bagi pedagang burung pipit di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sejumlah pedagang mengaku meraih omzet hingga puluhan juta rupiah dari penjualan burung pipit yang menjadi bagian ritual tradisi masyarakat Tionghoa.
Salah seorang pedagang, Akhmad (50), mengatakan penjualan burung pipit meningkat tajam sejak H-3 Imlek. Di kawasan Klenteng Dewi Kwam Im, Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, ia mampu menjual hingga 500 ekor burung pipit per hari.
“Alhamdulillah, setiap tahun Imlek kami bisa berjualan. Burung pipit selalu dicari dan jumlah penjualannya bisa ratusan ekor per hari,” ujarnya, Selasa, 17 Februari 2026.
Menurut Akhmad, burung pipit dibeli untuk dilepaskan sebagai bagian dari ritual kepercayaan masyarakat Tionghoa yang diyakini sebagai simbol membuang kesialan dan mendatangkan rezeki. Biasanya, pembeli membeli dalam jumlah banyak untuk dilepaskan pada pagi, siang, sore, hingga malam hari.
Dengan harga berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per ekor, pedagang dapat menjual ribuan ekor burung pipit selama masa perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
“Ini sudah menjadi rezeki musiman. Saat Imlek dan Cap Go Meh, pembeli biasanya memborong burung pipit untuk dilepaskan,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan pedagang lainnya, Rusnadi (46). Ia mengaku penjualan burung pipit saat Imlek selalu mengalami lonjakan signifikan dibanding hari biasa.
“Sejak H-3 Imlek sudah ramai. Penjualan bisa mencapai 500 ekor per hari,” katanya.
Sementara itu, suasana perayaan Imlek di Palembang, khususnya di Klenteng Kwam Im yang merupakan salah satu klenteng tertua di Kota Palembang, berlangsung semarak dengan dominasi warna merah. Berbagai aktivitas digelar, mulai dari ritual pelepasan burung pipit hingga pertunjukan barongsai yang menarik perhatian warga, terutama anak-anak.
Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat nilai budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi para pedagang musiman di sekitar lokasi perayaan.
ANTARA









