JAKARTA –

BORNEONEWS, Moskow – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Kuba tidak diperlukan, di tengah spekulasi internasional mengenai kemungkinan langkah keras Washington terhadap negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di atas Air Force One, Senin, 16 Februari 2026, ketika ditanya apakah AS akan melakukan operasi serupa dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beberapa waktu lalu.

“Saya tidak ingin menjawab itu. Mengapa saya harus menjawabnya? Jika memang terjadi, itu bukan operasi yang sulit, seperti yang bisa Anda bayangkan. Namun, saya pikir itu tidak akan diperlukan,” kata Trump.

Trump menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan Kuba, yang turut melibatkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

“Marco Rubio sedang berbicara dengan Kuba sekarang, dan mereka seharusnya benar-benar membuat kesepakatan, karena ini adalah masalah kemanusiaan. Ini benar-benar ancaman kemanusiaan,” ujar Trump, seraya mengisyaratkan bahwa pihak Kuba memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.

Pernyataan Trump ini muncul setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer di Venezuela pada 3 Januari lalu, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi proses hukum.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” dan dinilai sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa pendekatan terhadap Kuba berbeda, dan hingga saat ini jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama pemerintah AS dalam menangani hubungan dengan Havana.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA