BORNEONEWS, Palangka Raya - Umat Katolik di seluruh dunia, termasuk di Kota Cantik Palangka Raya memasuki masa Prapaskah dan Puasa melalui perayaan Ekaristi Rabu Abu pada Rabu, 18 Februari 2026. Misa di Katedral Santa Maria hari ini dilaksanakan dalam tiga sesi yakni pukul 05.15 WIB yang dipimpin Pastor Tu'u dan Pastor Subandi. Kemudian ada pula yang dilaksanakan pukul 17.00 WIB yang dipimpin Pastor Penta. Sesi terakhir di pukul 20.00 WIB yang dipimpin oleh Pastor Patris Alu Tampu dan Pastor Jimmy.
Meski menjadi sesi yang paling malam, misa pukul 20.00 WIB tidak tampak sepi. Ratusan umat Katolik tetap memadati gereja Katolik yang berada di Jalan Tjilik Riwut km 1, Palangka Raya ini.
Dalam pengantarnya di awal misa Pastor Patris meminta umat untuk menyiapkan hati memasuki misa Rabu Abu yang menjadi penanda dimulainya 40 hari masa pertobatan menjelang Paskah.
Tahun ini, Rabu Abu memiliki makna yang kian mendalam. Tanggal 18 Februari 2026 juga bertepatan dengan awal Ramadan 1447 Hijriah bagi sebagian umat Islam di Indonesia. Momentum religius yang hadir bersamaan ini menghadirkan nuansa spiritual yang kuat, saat dua umat beragama sama-sama memulai masa pengendalian diri dan peningkatan ketakwaan.
Dalam pengantar misa, Pastor Patris Alu Tampu menegaskan bahwa penerimaan abu di dahi bukan sekadar simbol liturgis, melainkan tanda kesediaan umat membuka pengalaman pertobatan.
“Kita mengawali masa pra-Paskah dengan menerima abu sebagai tanda membuka pengalaman pertobatan dalam ungkapan untuk mencintai Allah yang maharahim,” ungkap Pastor Patris yang disimak umat seraya mempersiapkan diri bagi Tuhan.
Ia menjelaskan, abu yang dibubuhkan menjadi pengingat akan kelemahan dan kefanaan manusia. Melalui penyesalan dan amal kasih, umat diajak menyadari keterbatasan diri sekaligus membangun komitmen untuk hidup lebih setia pada ajaran Tuhan. Masa Prapaskah, lanjutnya, adalah waktu untuk menata ulang relasi dengan Sang Pencipta melalui doa, pantang, dan perbuatan kasih.
Pastor Patris juga mengajak umat untuk tetap tekun mendalami kasih dan ajaran Tuhan sepanjang masa Prapaskah. Menurutnya, pertobatan sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi diwujudkan dalam kesaksian nyata atas kebaikan Tuhan di tengah kehidupan sehari-hari.
Perayaan Rabu Abu malam itu berlangsung khidmat. Umat secara bergantian menerima tanda salib dari abu di dahi, seraya merenungkan panggilan untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang rendah dan penuh harapan.
"Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketakwaan dimulai dari kesadaran diri dan kesediaan untuk terus bertumbuh dalam iman," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)









