PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kelapa sawit menjadi isu krusial dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Penegasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Media Briefing bertajuk Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Melaju ke Depan yang digelar di Hotel Mövenpick Pecenongan.

Kegiatan ini menghadirkan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, serta Direktur PASPI sekaligus praktisi sawit nasional, Dr Ir Tungkot Sipayung. Forum tersebut menjadi ruang diskusi strategis mengenai arah industri sawit Indonesia di tengah dinamika global dan tantangan domestik yang terus berkembang.

Dalam paparannya, Tungkot Sipayung menekankan bahwa sektor kelapa sawit memiliki peran strategis yang sangat besar terhadap ekonomi nasional, mulai dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi devisa, hingga menopang ketahanan energi. Karena itu, setiap gejolak di sektor ini akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia secara menyeluruh.

“Kalau kelapa sawit bergejolak, maka perekonomian nasional juga akan ikut bergejolak. Sawit bukan hanya komoditas, tetapi tulang punggung ekonomi, tidak hanya di daerah namun juga di perkotaan,” ujarnya dalam rilis BPDP pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ia menilai, keberlanjutan sektor ini menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Tungkot mengungkapkan, tantangan utama industri sawit Indonesia saat ini bukan lagi pada perluasan lahan, melainkan stagnasi produktivitas, khususnya di tingkat perkebunan rakyat. Berdasarkan data yang dipaparkannya, dalam hampir tiga dekade terakhir peningkatan luas tanaman menghasilkan tidak berjalan seiring dengan kenaikan produktivitas.

“Perluasan lahan tidak otomatis meningkatkan produksi. Tanpa perbaikan produktivitas, kita justru akan menghadapi gap produksi di masa depan,” tegasnya.

Kondisi ini dinilai perlu segera diantisipasi melalui langkah terstruktur dan berkelanjutan.

Pemerintah pun mendorong agar produktivitas perkebunan rakyat dapat mencapai minimal 3 ton per hektare melalui berbagai intervensi strategis. Upaya tersebut dilakukan melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, penguatan sumber daya manusia, hingga dukungan riset berkelanjutan yang berorientasi pada peningkatan hasil dan efisiensi usaha tani.

Sementara itu, Zaid Burhan Ibrahim menekankan bahwa agenda peningkatan produktivitas harus dipahami sebagai bagian dari strategi menjaga daya saing sawit Indonesia di tengah tantangan global.

"BPDP terus memperkuat perannya sebagai enabler melalui pembiayaan PSR, dukungan sarpras, pengembangan SDM perkebunan, serta pendanaan riset," jelas Zaid lagi.

Melalui forum ini, BPDP berharap media dapat menyampaikan narasi berbasis data dan fakta, sehingga publik memahami bahwa peningkatan produktivitas sawit bukan sekadar isu teknis, melainkan strategi nasional untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan petani, dan ketahanan energi Indonesia. (TESTI PRISCILLA/j)