PANGKALAN BUN –

BEBERAPA waktu terakhir muncul kritik bahwa perguruan tinggi telah berubah menjadi “industri kursus massal”. Mahasiswa makin banyak, kampus makin besar, wisuda makin ramai.

Namun di level daerah seperti Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kalimantan Tengah, pertanyaannya jauh lebih sederhana: setelah wisuda, kerja di mana?

Ini bukan sindiran. Ini realita yang setiap hari kami lihat di lapangan.

Realita di daerah
Setiap tahun pola yang muncul hampir sama. Lulusan SMA dan S1 datang melamar kerja. Mereka membawa harapan, semangat, dan ijazah yang baru saja diterima.

Di sisi lain, perusahaan datang dengan kebutuhan yang sangat spesifik. Mereka mencari operator alat berat, teknisi listrik industri, supervisor kebun yang memahami standar ISPO, tenaga hospitality yang siap kerja di hotel dan sektor wisata, hingga tenaga logistik dan pelabuhan yang terlatih.

Sementara yang datang melamar, sebagian besar adalah lulusan manajemen umum, hukum umum, atau ekonomi umum.
Ini bukan kesalahan mereka. Bukan pula sepenuhnya kesalahan kampus. Namun kita harus jujur bahwa ada jarak antara ijazah dan kebutuhan riil industri.

Jarak inilah yang sering kali membuat lulusan merasa sudah siap, sementara dunia usaha merasa belum menemukan kompetensi yang sesuai.

Industri daerah Itu berbeda
Struktur ekonomi daerah kita memiliki karakter khas. Di Kotawaringin Barat dan Kalimantan Tengah, sektor utama bertumpu pada perkebunan sawit, kehutanan, pertambangan, pelabuhan dan logistik, UMKM, serta pariwisata sungai dan alam.

Sektor-sektor ini membutuhkan keterampilan teknis, disiplin kerja tinggi, serta kompetensi yang terukur. Bukan berarti pendidikan S1 tidak penting. Pendidikan tinggi tetap memiliki peran strategis. Namun pasar kerja daerah lebih banyak menyerap tenaga dengan kategori middle skill dibandingkan teori akademik semata.

Artinya, tantangan kita bukan sekadar menambah jumlah lulusan, tetapi memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan.

Jangan semua dibebankan ke kampus
Sering kali debat publik berhenti pada satu kalimat: “Kampus harus berbenah.”
Benar. Tetapi itu tidak cukup.

Pendidikan tidak berdiri sendiri. Dunia usaha harus aktif memberi sinyal kebutuhan keterampilan. Orang tua perlu memahami bahwa “yang penting S1 dulu” tidak selalu menjamin kesiapan kerja.

Anak muda juga perlu melihat jalur vokasi bukan sebagai pilihan kelas dua, melainkan sebagai jalur strategis.
Mismatch tenaga kerja adalah persoalan ekosistem. Jika satu pihak bergerak sendiri, hasilnya tidak akan maksimal.

Kita tidak bisa menunggu dari atas
Jika daerah hanya menunggu perubahan kebijakan nasional, kita akan tertinggal. Pasar kerja di Kotawaringin Barat tidak menunggu. Perusahaan tetap merekrut. Industri tetap berjalan. Investasi tetap masuk.

Ketika SDM lokal belum siap, maka tenaga kerja dari luar daerah akan mengisi ruang tersebut. Lalu muncul pertanyaan, mengapa putra daerah tidak terserap? Jawabannya sering sederhana: kompetensi belum sesuai kebutuhan.

Solusi realistis skala daerah
Di tingkat daerah, yang bisa kita lakukan bukan revolusi sistem nasional, melainkan langkah konkret dan terukur.

Pertama, melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja riil per sektor secara berkala. Data ini harus menjadi dasar perencanaan pelatihan dan pendidikan.

Kedua, mendorong kerja sama yang lebih serius antara kampus lokal dan industri berbasis magang yang substansial, bukan sekadar formalitas satu bulan.

Ketiga, menyediakan pelatihan konversi keterampilan bagi lulusan yang belum terserap, agar mereka bisa beradaptasi dengan kebutuhan sektor riil.

Keempat, memperkuat sertifikasi kompetensi sebelum memasuki dunia kerja sehingga perusahaan mendapatkan tenaga yang siap pakai.

Kelima, melakukan edukasi publik bahwa jalur vokasi bukan jalur kelas dua, melainkan jalur yang sangat dibutuhkan oleh struktur ekonomi daerah.

Langkah-langkah ini realistis dan bisa dilakukan tanpa harus menunggu restu elite pendidikan di tingkat nasional.

Perlu kejujuran bersama
Ada dua kalimat yang sering kita dengar.
“Yang penting anak saya kuliah.”
Dan kemudian, “Kenapa setelah kuliah susah kerja?”

Jika dua kalimat ini tidak pernah kita sambungkan, maka persoalan akan terus berulang. Kuliah itu penting. Tetapi yang lebih penting adalah: kuliah untuk apa? Untuk kompetensi apa? Untuk kebutuhan sektor mana?
Pertanyaan ini harus dijawab sejak awal, bukan setelah wisuda.

Penutup
Di daerah, kita tidak kekurangan semangat untuk sekolah. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan nyata ekonomi daerah. 

Bukan untuk menyalahkan kampus. Bukan untuk menyalahkan industri.
Melainkan untuk menyadari bahwa gelar tanpa kompetensi yang relevan, hanya akan menambah angka statistik, bukan menambah daya saing.

Jika kita tidak mulai dari sekarang, anak-anak kita akan tetap wisuda dengan bangga, tetapi pulang membawa tanda tanya yang sama:
Kerja di mana?

Penulis: Yudhi Hudaya, adalah Kepala Disnakertrans Kotawaringin Barat