BORNEONEWS, Sampit – Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menilai penyelenggaraan Pasar Ramadan atau Bazar Kuliner Ramadan 1447 Hijriah di Sampit merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para pedagang dalam mendorong pertumbuhan pelaku UMKM.
Menurut Rimbun, kegiatan tahunan tersebut menjadi bukti komitmen bersama untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, khususnya sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta pedagang makanan dan kue tradisional.
"Pasar Ramadan ini adalah sinergitas kita semua, baik pemerintah daerah, elemen masyarakat, maupun para pedagang. Ini membuktikan bahwa kita bersama-sama ingin mensejahterakan UMKM dan pedagang, baik makanan maupun kue," kata Rimbun, Jumat, 20 Februari 2026.
Tahun ini, bazar atau Pasar Ramadan diikuti sekitar 130 pedagang yang tersebar di dua lokasi utama. Di kawasan Jalan S. Parman, tepatnya di area parkir Taman Kota Sampit, terdapat sekitar 70 pedagang kuliner lokal. Rinciannya terdiri dari 42 pedagang kue tradisional, 17 pedagang minuman segar, 8 pedagang asongan, serta 7 dealer dan distributor pangan.
Sementara itu, di kawasan Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Swalayan UMKM dan Museum Kayu, terdapat sekitar 60 stand kuliner modern. Komposisinya meliputi 15 pedagang minuman, 15 pedagang kue, serta 30 pedagang makanan berat seperti risoles, dimsum, dan aneka hidangan lainnya.
Selama satu bulan pelaksanaan Ramadan, potensi transaksi jual beli di dalam area bazar diproyeksikan mencapai Rp2 miliar. Selain itu, terdapat estimasi tambahan omzet dari aktivitas di luar area utama, termasuk parkir dan transaksi di sekitar lokasi, yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
Adapun potensi pendapatan daerah dari retribusi parkir, kebersihan, dan lainnya ditargetkan sebesar Rp50 juta. Dengan demikian, total perputaran ekonomi selama Pasar Ramadan di Sampit diperkirakan mencapai kurang lebih Rp3,5 miliar.
Rimbun berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berburu takjil, tetapi juga momentum memperkuat ekonomi masyarakat serta menjaga keberlangsungan UMKM lokal di Kotim. (DEWI PATMALASARI/y)









