KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Langkah Pemerintah Kabupaten Kapuas mempercantik wajah Kota Kuala Kapuas sekaligus mengembangkan infrastruktur di sejumlah wilayah memunculkan satu pertanyaan: apakah ini sekadar proyek kosmetik, atau strategi ekonomi jangka panjang? Penataan taman, pembenahan trotoar, peningkatan penerangan jalan, hingga pengembangan fasilitas publik disebut menjadi bagian dari arah pembangunan yang tengah digencarkan.

Jika merujuk pada sejumlah kajian ilmiah, penataan kota bukan sekadar urusan estetika. Artikel dalam Journal of Regional and City Planning yang diterbitkan Institut Teknologi Bandung menyebutkan bahwa kualitas ruang publik dan konektivitas kawasan berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Kota yang tertata dinilai mampu memperkuat sirkulasi perdagangan serta memperluas ruang interaksi sosial produktif.

Kajian dalam Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota juga menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan pusat kota berdampak langsung pada pertumbuhan UMKM. Peningkatan kualitas taman kota dan koridor jalan utama terbukti menaikkan jumlah kunjungan masyarakat, yang berimbas pada peningkatan omzet pedagang kecil dan sektor jasa.

Dari sisi investasi, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (JEPI) yang dikelola akademisi Universitas Indonesia mencatat bahwa kualitas infrastruktur dan lingkungan perkotaan menjadi variabel penting dalam menarik investor. Faktor kebersihan, keamanan, pencahayaan, dan keteraturan tata ruang masuk dalam indikator penilaian iklim usaha daerah.

Sementara itu, pendekatan pembangunan berbasis padat karya juga memberi dampak langsung terhadap serapan tenaga kerja. Evaluasi program yang dipublikasikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa proyek infrastruktur skala daerah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pelibatan tenaga kerja lokal selama proses pembangunan.

Akademisi dari Universitas Gadjah Mada dalam sejumlah publikasi turut menegaskan bahwa estetika kota berkorelasi dengan kualitas hidup warga. Lingkungan yang nyaman dan tertata mendorong aktivitas ekonomi harian, memperpanjang durasi kunjungan, serta meningkatkan produktivitas kawasan.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pembangunan fisik tanpa integrasi kebijakan ekonomi berisiko menjadi proyek jangka pendek. Penataan kota perlu disertai penguatan UMKM, promosi investasi, serta pemeliharaan berkelanjutan agar manfaatnya tidak berhenti pada tampilan visual semata.

Dengan merujuk berbagai hasil kajian tersebut, langkah Pemkab Kapuas mempercantik kota dan mengembangkan infrastruktur tidak bisa semata dipandang sebagai kosmetik. Jika dikelola konsisten dan terintegrasi, strategi ini berpotensi menciptakan efek ganda berupa peningkatan lapangan kerja, pertumbuhan usaha lokal, serta penguatan daya saing daerah. (SABRIANOOR/j)