JAKARTA –

BORNEONEWS, Banda Aceh – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa proses pemulihan pascabencana di Aceh masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu terus ditangani, meskipun beberapa aspek penanganan telah menunjukkan progres yang positif.

“Tadi saya sampaikan progres penanganan bencana Aceh. Ada masalah-masalah yang masih harus diselesaikan, namun ada juga yang sudah berjalan dengan baik,” ujar Tito Karnavian di Banda Aceh, Minggu, 22 Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Mendagri usai melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, sekaligus dalam rangkaian kunjungannya sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera ke sejumlah daerah terdampak di Aceh sejak Kamis (19/2).

Dalam kunjungannya, Mendagri mengaku telah menghimpun berbagai informasi terbaru melalui peninjauan lapangan dan diskusi bersama Wakil Gubernur Aceh, serta para bupati dan wali kota di wilayah terdampak bencana.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang masih harus ditangani adalah penyelesaian pengungsi, khususnya warga yang rumahnya mengalami rusak berat. Pemerintah tengah memastikan penempatan mereka ke hunian sementara (huntara).

“Masih ada pengungsi yang tinggal di tenda, seperti di Langkahan, Aceh Utara. Namun penanganannya sudah diambil alih oleh Menteri Pekerjaan Umum, dan ditargetkan sebelum Idul Fitri huntara di Langkahan selesai,” jelasnya.

Selain itu, Mendagri menyoroti bantuan bagi rumah rusak ringan dan sedang, termasuk bantuan stimulan untuk perabotan dan pemulihan ekonomi warga. Ia meminta pemerintah kabupaten/kota dan provinsi segera melakukan konsolidasi dan validasi data agar penyaluran bantuan dapat dipercepat.

Persoalan lainnya adalah infrastruktur, terutama sejumlah jembatan yang masih bersifat temporer dan harus segera diselesaikan, serta jalan longsor yang masih terjadi di beberapa titik jalur pegunungan.

Ia mencontohkan lima titik longsor di kawasan Lokop, Kabupaten Aceh Timur, yang merupakan jalur penghubung menuju Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, dan hingga kini belum terbuka sepenuhnya.

Selain itu, Mendagri juga menyoroti endapan lumpur di beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya yang masih cukup berat, terutama di area permukiman, meskipun jalan utama sudah relatif bersih.

“Kita juga melihat sungai di Pidie Jaya yang kembali meluap dan menyebabkan banjir. Ini menjadi perhatian serius untuk ditangani,” ujarnya.

Mendagri menambahkan, beberapa fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan pondok pesantren juga masih belum pulih sepenuhnya dan akan menjadi prioritas pembahasan lanjutan.

“Nanti akan saya rapatkan di Jakarta bersama para menteri terkait untuk membagi kembali tugas dan mempercepat penyelesaian persoalan-persoalan ini,” kata Tito.

Di sisi lain, Mendagri mengapresiasi capaian positif dalam pemulihan kelistrikan, yang saat ini telah menyala di sekitar 95 persen wilayah Aceh, dengan hanya beberapa desa yang masih belum teraliri listrik. Sementara itu, kelistrikan di Sumatera Barat telah pulih 100 persen, dan Sumatera Utara hampir sepenuhnya normal.

Ia juga memastikan bahwa seluruh jalan nasional di Aceh telah terbuka, meskipun masih terdapat pekerjaan lanjutan di sejumlah ruas.

“Banyak hal positif yang sudah kita kerjakan. Namun, bila masih ada kritik dan masukan, tentu kami terima. Jika memang benar, akan segera kita tindak lanjuti,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mendagri Tito Karnavian turut memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan.

“Kami mengapresiasi kerja keras TNI, Polri, PLN, Pertamina, Kementerian PU, Kementerian Kesehatan, dan semua pihak. Rumah sakit umum daerah sudah kembali operasional, dan ini capaian yang patut kita syukuri,” pungkas Mendagri.

ANTARA