BORNEONEWS, Palangka Raya - Kain khas Kalimantan Tengah, Benang Bintik, dinilai memiliki potensi besar untuk terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi, khususnya melalui penerapannya pada busana siap pakai yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga kelestarian budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Palangka Raya, Iin Hendrayati Idris, menyampaikan bahwa pengembangan motif Benang Bintik ke dalam desain fashion modern merupakan langkah strategis yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri kreatif daerah.
Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk budaya lokal di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, Benang Bintik tidak semestinya diposisikan semata sebagai simbol adat atau peninggalan masa lalu, melainkan perlu dihadirkan secara adaptif dalam kehidupan masyarakat masa kini tanpa menghilangkan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Setiap motif pada kain tersebut menyimpan makna mendalam terkait kehidupan masyarakat Dayak.
"Ketika Benang Bintik dapat dikenakan oleh generasi muda ke kampus, ke tempat kerja, maupun ruang publik lainnya, maka budaya Dayak benar-benar hidup dan berkelanjutan," ujarnya, Minggu, 22 Februari 2026.
Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan budaya pada generasi muda.
Iin menegaskan bahwa inovasi pada desain dan fungsi kain tradisional justru dapat memperkuat identitas budaya, selama makna, filosofi, dan nilai-nilai luhur dari setiap motif tetap dijaga dan dihormati.
Kerjasama antara perancang busana, seniman, dan komunitas adat menjadi kunci dalam mewujudkan hal tersebut.
"Diharapkan dengan pengembangan yang tepat, Benang Bintik tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi kreatif dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam produksinya," pungkasnya. (PATHUR/j)









