BORNEONEWS, Samarinda – Sejarawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip mengungkapkan bahwa perubahan keyakinan Kerajaan Kutai Kertanegara dari monarki Hindu menjadi kerajaan Islam terjadi melalui pendekatan dakwah yang inklusif dan damai, tanpa paksaan ataupun konflik.
Menurut Sarip, transformasi besar dalam sejarah peradaban di tepian Sungai Mahakam itu dipelopori oleh seorang ulama kharismatik bernama Tuan Tunggang Parangan, yang dikenal mengedepankan keteladanan, kelembutan, dan dialog dalam menyebarkan ajaran Islam.
“Keputusan kerajaan menerima Islam menandai awal era baru bagi Kutai Kertanegara. Islam menjadi agama resmi kerajaan dengan corak religiusitas yang inklusif, akomodatif, dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama,” ujar Sarip di Samarinda, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menjelaskan, titik balik sejarah tersebut bermula sekitar tahun 1575, saat Tuan Tunggang Parangan tiba di kawasan Tepian Batu, wilayah strategis di Kerajaan Kutai. Kehadirannya disambut secara terbuka oleh Raja Makota, penguasa Kutai saat itu, yang menerima ajaran Islam tanpa tekanan apa pun.
Keberhasilan dakwah tersebut, lanjut Sarip, tidak lepas dari kepribadian sang ulama yang kharismatik serta pendekatan persuasif yang menghormati tradisi dan budaya lokal masyarakat Kutai.
“Perubahan itu juga tercermin dalam budaya istana, termasuk pemberian nama putra-putra mahkota yang bernuansa Islam, seperti Maharaja Sultan dan Raja Mandarsyah,” katanya.
Sarip menambahkan, sebelum tiba di Tanah Borneo, Tuan Tunggang Parangan telah lebih dulu menjalin kesepakatan pembagian wilayah dakwah dengan ulama lain, Datuk Ri Bandang, untuk menyebarkan Islam lintas pulau di Nusantara.
Keduanya semula berdakwah di wilayah Kesultanan Tanete, Sulawesi Selatan, guna meredam ketegangan sosial akibat perbedaan pemahaman keagamaan. Namun, situasi mendesak akibat kembalinya sebagian masyarakat Makassar ke kepercayaan lama membuat Datuk Ri Bandang harus kembali ke wilayah tersebut.
“Kondisi itu menyebabkan Tuan Tunggang Parangan melanjutkan misi dakwah seorang diri dengan menyeberangi Selat Makassar menuju Pelabuhan Kutai Lama,” ujar Sarip.
Atas besarnya jasa sang ulama dalam sejarah Islamisasi Kutai, pemerintah daerah kemudian melakukan pemugaran kompleks makam Tuan Tunggang Parangan dengan anggaran sekitar Rp1 miliar.
Revitalisasi tersebut bertujuan menjadikan kawasan makam sebagai destinasi wisata religi, budaya, dan sejarah, sekaligus sarana edukasi publik tentang proses masuknya Islam ke Kalimantan Timur yang berlangsung secara damai dan beradab.
ANTARA









