MENTERI Sosial Kofifah Indar Parawansa datang ke Palangka Raya membawa keberuntungan bagi warga.  Bukan hanya karena membawa berbagai macam bantuan.  Tetapi kita juga beruntung, karena menteri Kofifah telah memberi dan menunjukkan cara baru bagi kita dalam melihat dan menjadi Indonesia.  Menteri Kofifah memberi pencerahan, bagaimana kita ber-Indonesia. 

Sekali lagi, rakyat Kalimantan Tengah beruntung. Dalam sepekan terakhir, ada berapa menteri datang bertandang.  Bahkan, Presiden hari ini juga dijadwalkan datang.   

Sebagaimana kita rasakan,  berbagai dimensi kehidupan  terasa menjadi kian tajam, kian panas, kian sensitif. Berbagai komponen terasa semakin egois,  apatis.  Berbagai kelompok kian partisan, kian sektarian. Bahkan, dalam berbagai peristiwa, tampak adanya sikap dan perilaku intoleran.

Dari dinamika yang kian menonjol akhir-akhir ini,  semakin banyak muncul  kelompok sektarian yang  gemar memaksakan kehendak. Ada yang mulai memuja berbagai bentuk kekerasan.  Malah, ada yang menghalalkan teror dengan mengatasnamakan misi keagamaan.

Ini semua jelas membuat  persaudaraan semakin menipis. Ini jelas membuat rasa kebangsaan kita pudar.  Ini membuat rasa dan sikap kita bernegara  kian sirna. Penghargaan terhadap keanekaragaman budayapun mulai tergerus. 

Menteri Sosial Kofifah  mengingatkan kita. Pada saat kita berada di persimpangan jalan, Kofifah menjadi penunjuk arah. Mengingatkan kembali cara kita berbangsa, bernegara, ber-Indonesia.  Yaitu dengan cara menghargai keberagaman. Menjunjung tinggi kebhinekaan. 

Kita  ini bisa menjadi  bangsa dan negara, oleh karena di dalamnya  ada keanekaragaman, ada kebhinekaan. “Tanpa Dayak, kita bukan Indonesia. Tanpa Bugis, tanpa Makasaar, tanpa Sunda, tanpa Batak, kita semua bukan Indonesia.”

Untuk menjadi Indonesia,  kata Kofifah, “tidak boleh dipisah-pisah.”  Demikian halnya, soal agama. Negeri ini memberikan kesempatan tumbuh suburnya semua agama. Pararel dengan penjelasan Kofifah, maka jika hanya ada Islam saja, pasti bukan Indonesia. Jika ada Islam dan Kristiani saja, pasti bukan Indonesia.  

Mengapa? Karena untuk bisa disebut Indonesia, harus  mencakup semuanya. Dan semuanya itu berdampingan secara damai, rukun  dan bersatu bahu-membahu. Yaitu Islam, Kristen, Katholik, Budha, Kong Hu Chu, Hindu plus Kaharingan. 

Singkat cerita, entitas negara dan bangsa Indonesia  adalah keanekaragaman  suku, ras,  budaya, bahasa, agama dan kepercayaan.

Sejak dari sono-nya,  negeri ini dijiwai oleh kearifan Nusantara. Yaitu kearifan yang meletakkan diri pada fondasi nilai  harmoni. Keanekaragaman, kebhinekaan, adalah jiwa dan spirit Nusantara.  Tan hana dharma mangrwa.  Beranekaragam itu satu.  Yaitu dalam kesatuan wadah, penguat dan pelindung: Pancasila!