BORNEONEWS, Sampit - Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkap penyebab kelangkaan LPG 3 kg yang dikeluhkan warga saat bertepatan memasuki awal bulan Ramadan.
"Kelangkaan yang terjadi itu pertama Karena ada kerusakan kompresor di SPBE km 10 sehingga tidak berfungsinya nozzle secara keseluruhan dari hari Kamis, 19 Februari 2026. Kemudian yang kedua agen mengambil ke Pangkalan Bun elpijinya sehingga memerlukan waktu," kata Kepala DKUPP Kotim Johny Tangkere.
Dirinya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke agen yang dilanjutkan ke SPBE di Pelangsian setelah mendapat laporan warga terkait kelangkaan elpiji 3kg.
Ia memaparkan, dari total 12 nozzle yang dimiliki SPBE, dua di antaranya sebelumnya disegel oleh Polda Kalimantan Tengah (Kalteng). Sementara 10 nozzle yang tersisa sebenarnya beroperasi, namun akibat kerusakan kompresor, seluruh sistem pengisian tidak dapat difungsikan.
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, Pertamina mengambil kebijakan pengalihan pengambilan stok ke Pangkalan Bun.
"Jadi pengambilan ke Pangkalan Bun itu untuk menutupi karena kerusakan kompresor. Supaya tidak bertambah parah, diambil kebijakan oleh Pertamina pengambilan ke Pangkalan Bun. Karena kalau dibiarkan bukan lagi kelangkaan Bisa didemo oleh warga," tambahnya.
Lanjutnya, pengambilan LPG ke Pangkalan Bun tersebut selain memerlukan waktu lebih lama untuk perjalanan juga perlu waktu untuk antre. Sebab SPBE di Pangkalan Bun tidak melayani Kotim namun juga dari Pangkalan Bun itu sendiri, Sukamara, dan Lamandau.
Johny menegaskan, pengambilan LPG dari luar daerah tidak memengaruhi Harga Eceran Tertinggi (HET). Untuk wilayah kota, HET LPG 3 kg ditetapkan Rp22.000 per tabung di agen wilayah kota.
"Kalau harga naik itu bukan dari agen, kalau agen itu tetap. Kalau Rp40rb itu biasanya di pengecer. Kalau sampai 40rb memang kelewatan. HET 22.000 untuk di kota, kecamatan lain berbeda-beda karena ada ongkos angkutnya," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Operasional SPBE Km 10 Pelangsian, Robby, membenarkan adanya gangguan pada mesin kompresor yang berfungsi menyuplai seluruh unit pengisian.
"Kami mengalami trouble di mesin kompresor. Kompresor itu untuk suplai semua unit pengisian. Kami langsung berkoordinasi dengan pihak pertamina untuk pengalihan alokasi sebagian," katanya.
Saat terjadi kerusakan, pihak SPBE juga segera melakukan pengadaan unit kompresor baru dari luar daerah yang tiba pada Minggu, 22 Februari 2026. Setelah dilakukan pengecekan, operasional kembali berjalan normal Senin.
"Hari ini Insya Allah lancar. Ini kan kami sambil launching juga. Dari pagi tadi sampai sekarang tidak ada kendala. Kami juga menunggu unit kawan-kawan agen yang balik dari Pangkalan Bun dan Palangka Raya. Jadi mereka masuk kami layani," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









