TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Rutan Kelas IIB Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur melaksanakan skrining kesehatan mental bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan sosialisasi dan tes psikologis, Rabu, 25 Februari 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi stres dan depresi yang dialami warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Kegiatan yang dipusatkan di klinik rutan tersebut dipandu oleh peserta magang, Sonyha Anathalia selaku psikolog dan didampingi anggota pengamanan.

Pelaksanaan berlangsung tertib dan kondusif dengan pengawasan petugas untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman.

Dalam skrining tersebut, peserta mengisi instrumen BDI-II (Beck Depression Inventory-II) dan PSS (Perceived Stress Scale) sebagai pre-test. Kedua alat ukur ini digunakan untuk mengidentifikasi tingkat stres dan gejala depresi secara dini sehingga penanganan lanjutan dapat dilakukan secara tepat dan terarah.

“Skrining ini bertujuan mengetahui kondisi psikologis warga binaan sejak awal. Melalui BDI-II dan PSS, kami bisa memetakan tingkat stres maupun indikasi depresi sehingga intervensi dapat diberikan sesuai kebutuhan,” ujar Sonyha Anathalia saat ditemui usai kegiatan.

Selain pengisian tes, warga binaan juga menerima materi edukasi mengenai pengertian mental dan kesehatan mental, tanda-tanda tekanan psikologis, jenis gangguan mental serta cara menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari. 

Penyampaian dilakukan secara interaktif agar peserta lebih mudah memahami materi sekaligus berani menyampaikan pengalaman pribadi.

Kepala Rutan Tamiang Layang melalui keterangan tertulis menegaskan bahwa skrining kesehatan mental ini merupakan bagian dari komitmen pembinaan yang menyeluruh.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek keamanan dan kedisiplinan, tetapi juga memastikan kesehatan mental warga binaan tetap terjaga sebagai bekal mereka kembali ke masyarakat,” tegasnya.

Kegiatan skrining dilaksanakan secara bertahap dengan sistem bergiliran per kamar setiap harinya agar seluruh warga binaan mendapatkan kesempatan yang sama. 

Program ini diharapkan memperkuat sistem pembinaan berbasis pemulihan serta mendukung terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang lebih humanis dan responsif terhadap kebutuhan psikologis warga binaan. (AGUSTINUS BOLE MALO/r)