BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berkomitmen terus menyehatkan perusahaan. Salah satu program utama 2017 yang harus dituntaskan adalah restrukturisasi utang perbankan dan non perbankan. 

"Holding berupaya merestrukturisasi kewajiban pembayaran bank (reprofiling dan menurunkan suku bunga bank serta memfasilitasi pendanaan baru/fresh money injection) bagi beberapa PTPN yang mengalami kesulitan likuiditas," kata Direktur Utama Perkebunan Nusantara III, Elia Massa Manik, melalui siaran pers yang diterima Selasa (20/12/2016).

Ia memperkirakan, total dana yang dibutuhkan dalam jangka waktu 2-3 tahun untuk PTPN yang kesulitan likuiditas mencapai Rp11 triliun.

Lebih lanjut Elia mengatakan utang perbankan tersebut mencakup perpanjangan jangka waktu, penurunan bunga, serta penjadwalan ulang (rescheduling) pokok dan bunga. Sedangkan penyelesaian utang non-bank yang berjumlah Rp14 triliun, mencakup rescheduling utang niaga, penyelesaian utang pajak lewat amnesti pajak, dan penyelesaian kewajiban kepada karyawan (dana pensiun/SHT/BPJS Tenaga Kerja).

Pada saat yang sama, holding BUMN perkebunan juga membutuhkan injeksi dana segar sebesar Rp13 triliun selama periode 2016-2018. Pada 2016 sudah memeroleh dana sekitar Rp2 triliun yang digunakan untuk memperbaiki kemampuan pembayaran utang (repayment capacity) melalui peningkatan kinerja dan efektivitas biaya. 

Untuk program peningkatan kinerja, PTPN III akan terus melakukan rehabilitasi dan peningkatan produktivitas tanaman, perbaikan kinerja dan kapasitas pabrik, serta investasi tanaman dan non-tanaman.

"Seperti memfokuskan pada peningkatan kinerja empat komoditas, yaitu sawit, karet, gula, dan teh, pengembangan usaha hilirisasi, pemberdayaan litbang, penguatan marketing strategy, serta implementasi TI terintegrasi, ERP (Enterprise Resources Planning) dan E-procurement terintegrasi," ujarnya.

PTPN III turut melakukan pembenahan kultur teknis dalam pengelolaan komoditi (pelaksanaan pemupukan, peremajaan tanaman, pemeliharaan dan pengolahan hasil) sesuai Standard Operating Procedure yang telah ditetapkan beserta mekanisme pengawasan yang efektif untuk mencapai peningkatan produktivitas.

"Sejumlah indikator lain juga menunjukkan perbaikan selama 2016, seperti produktivitas karet naik 9%, teh naik 19%, kelapa sawit sedikit turun 7% di saat produksi nasional turun 15-20%, dan produksi gula turun 16% (produksi nasional turun 20%)," paparnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)