BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kapuas selama Bulan Ramadan menjadi sorotan setelah beredarnya foto dan percakapan terkait menu kering yang dibagikan kepada peserta didik pada 23 Februari 2026. Dalam foto tersebut tercantum “Menu MBG Kering” dengan komposisi ketan serundeng abon sapi, telur rebus, cocktail buah, dan kurma, lengkap dengan rincian kandungan gizi untuk porsi kecil dan porsi besar.
Menu tersebut disebut memiliki kandungan energi 586,2 kkal untuk porsi besar dan 473,8 kkal untuk porsi kecil. Sementara kandungan protein tercatat 15,5 gram pada porsi besar dan 7,9 gram pada porsi kecil, dengan total distribusi mencapai 3.274 porsi. Namun, di lapangan muncul keluhan dari sejumlah sekolah terkait kecukupan menu dan dugaan ketidaksesuaian dengan anggaran.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Selat Hulu, Dina Febrianti, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada seluruh pihak. Ia mengakui adanya kekurangan dalam pelaksanaan distribusi menu pada awal Ramadan.
“Kami sudah menyampaikan permintaan maaf kepada sekolah terkait makanan yang sudah diterima. Kami mengaku salah dan lalai, serta akan berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi,” ujar Dina Febrianti saat dikonfirmasi Borneonews, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sebelum Ramadan pihaknya telah berdiskusi mengenai pola menu yang akan diberikan. Berdasarkan imbauan agar mengutamakan makanan olahan sendiri dan bukan makanan ultra processed food (UPF), SPPG Selat Hulu berinisiatif menyajikan menu seperti ketan serundeng, kacang hijau, dan ketan hitam hasil olahan mandiri.
Pada hari pertama pelaksanaan menu Ramadan, pihaknya menyiapkan ketan serundeng, cocktail buah, telur, dan kurma. Namun, jumlah es buah yang disiapkan ternyata tidak mencukupi.
“Kami sempat menggunakan stok susu sebanyak 23 dus untuk mengganti es buah yang tidak kebagian, tetapi masih ada beberapa penerima manfaat (PM) yang tidak mendapatkan es buah atau susu karena keterbatasan waktu distribusi,” jelasnya.
Dina menambahkan, sebelum Ramadan jumlah penerima manfaat sekitar 2.000 lebih, kemudian ditingkatkan untuk melayani seluruh PM yang telah terdata. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan bahan meningkat signifikan, sementara beberapa bahan mengalami keterbatasan stok.
Setelah muncul komplain dari sekolah, pihaknya memutuskan mengubah seluruh menu satu minggu menjadi menu kering. Karena sebelumnya telah memesan melon, pada hari berikutnya melon tetap dibagikan dalam bentuk serut dengan perubahan kemasan, tidak lagi menggunakan cup. Untuk hari Kamis hingga Sabtu (bagi sekolah enam hari), menu buah seperti kelengkeng, jeruk santang, dan pir disiapkan sebagai pengganti menu sebelumnya.
Terkait kandungan gizi, Dina menyebut berdasarkan perhitungan internal, menu tersebut “hampir memenuhi” Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk usia anak sekolah. Namun ia mengakui masih perlu evaluasi lanjutan agar komposisi energi, protein, dan zat gizi lainnya benar-benar sesuai standar yang ditetapkan.
“Kami juga menyadari ada ketidaksesuaian dengan pagu anggaran pada pelaksanaan awal. Ke depan akan kami tutupi dengan menu yang lebih baik di hari berikutnya. Kami berkomitmen melakukan perbaikan agar distribusi MBG di wilayah Selat Hulu berjalan sesuai standar gizi dan pelayanan,” tegas Dina Febrianti. (SABRIANOOR/j)









