TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pemerintah Kabupaten Barito Timur melalui Dinas Pendidikan memastikan sebanyak 23 sekolah akan direhabilitasi dan dibangun baru pada tahun anggaran 2026.

Program ini menyasar satuan pendidikan mulai dari tingkat TK hingga SMP yang tersebar di sejumlah wilayah termasuk daerah perbatasan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Barito Timur, Bunyamin, menjelaskan bahwa paket pekerjaan tersebut merupakan pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD Barito Timur dan usulan dari Dinas Pendidikan.

“Rehabilitasi maupun pembangunan sekolah dari tingkat TK hingga SMP di Kabupaten Barito Timur pada tahun 2026 ada 23 sekolah. Dari 23 paket pekerjaan tersebut, 21 di antaranya merupakan pokok-pokok pikiran anggota DPRD Barito Timur dan dua lainnya murni usulan dari Dinas Pendidikan Barito Timur,” ujarnya.

Bunyamin menegaskan seluruh kegiatan rehabilitasi dan pembangunan itu bersumber dari APBD Barito Timur sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Ia menuturkan, sejumlah bangunan sekolah saat ini sudah tidak layak pakai, terutama yang berada di wilayah perbatasan dengan kabupaten tetangga.

Bahkan masih terdapat bangunan lama yang terkonstruksi kayu dan mengalami kerusakan di berbagai bagian sehingga tidak lagi representatif untuk kegiatan belajar mengajar.

“Banyak yang jauh ketinggalan daripada sekolah-sekolah lain, apalagi kalau kita lihat bangunannya, sebagian masih berbahan kayu dan kondisinya sudah memprihatinkan,” ungkap Bunyamin.

Ia mencontohkan kondisi sekolah di Desa Mawani, Kecamatan Patangkep Tutui yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Selain bangunan yang sudah tidak layak, faktor keamanan juga menjadi perhatian karena belum tersedia pagar sekolah.

“Kalau di SD Mawani, bangunan perpustakaan maupun buku tidak ada. Sedangkan di SMP ada bangunan perpustakaan tapi bukunya tidak ada sehingga kami berkoordinasi dengan dinas perpustakaan untuk diisi buku seadanya sesuai yang dimiliki dinas perpustakaan sekalipun itu sudah buku lama,” jelasnya.

Bunyamin menambahkan bahwa pembangunan baru dilakukan untuk mengganti bangunan lama yang masih berbahan kayu serta untuk menunjang proses belajar mengajar agar lebih optimal.

Pemerintah daerah ingin memastikan siswa belajar di ruang kelas yang aman, layak dan nyaman sehingga mampu meningkatkan semangat dan kualitas pembelajaran.

Kondisi sarana prasarana yang tertinggal di wilayah perbatasan, lanjutnya, selama ini berdampak pada pilihan sebagian orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke kabupaten tetangga yang dinilai memiliki fasilitas lebih memadai.

"Melalui program rehabilitasi dan pembangunan baru pada 2026, kami berharap ketimpangan tersebut dapat ditekan sekaligus memperkuat daya saing pendidikan di daerah kita," tandasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)