BORNEONEWS, Palangka Raya - Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Pencatatan Keuangan Pesantren pada 24–27 Februari 2026 sebagai upaya memperkuat kapasitas pendamping dan pengajar dalam memperluas literasi serta inklusi keuangan syariah di daerah.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Kantor Perwakilan BI Kalteng, Universitas Islam Negeri Palangka Raya melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Provinsi Kalteng.
Pembukaan kegiatan dilaksanakan di Aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalteng dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MES Provinsi Kalimantan Tengah Norhani, perwakilan UIN Palangka Raya Rahmawati, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah Ely Saputra, Dekan FEBI UIN Palangka Raya Tri Hidayati, Sekretaris Umum MES Kalimantan Tengah Heru Hidayat, serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.
Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 28 perwakilan MES kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah dan 22 dosen FEBI UIN Palangka Raya.
"Para peserta dipersiapkan menjadi trainer dan pendamping yang nantinya akan mereplikasi pelatihan serta mendampingi unit usaha pondok pesantren binaan atau mitra Bank Indonesia di wilayah Kalimantan Tengah," ujar Kepala Perwakilan BI Kalteng, Yuliansah Andrias pada Kamis, 26 Februari 2026.
Langkah ini diharapkannya, mampu memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan kualitas tata kelola keuangan pesantren secara berkelanjutan.
Pada hari pertama pelatihan, perwakilan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyampaikan materi terkait penyusunan laporan keuangan pesantren sesuai standar akuntansi yang berlaku.
"Materi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pencatatan keuangan yang sistematis, transparan, dan akuntabel sebagai fondasi pengembangan unit usaha pesantren," tambahnya.
Selanjutnya, pada hari kedua dan ketiga, peserta mendapatkan pelatihan praktik penggunaan aplikasi SANTRI (Sistem Akuntansi dan Keuangan Pesantren) yang disampaikan oleh perwakilan Gamatechno Indonesia.
Aplikasi ini dirancang sebagai alat bantu pencatatan keuangan yang sederhana, terstandar, dan mudah digunakan.
Pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif melalui praktik langsung, sehingga peserta diharapkan mampu mengimplementasikan sistem pencatatan keuangan yang lebih tertib dan profesional di lingkungan pesantren.
Bank Indonesia Provinsi Kalteng juga memberikan sosialisasi mengenai penggunaan QRIS dan Perlindungan Konsumen (PeKA).
Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta terkait transaksi digital yang aman dan efisien, sekaligus mendorong pesantren agar semakin adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia berharap pesantren dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi syariah yang mandiri, transparan, dan berdaya saing di Kalteng. (MARINI/R)









