BORNEONEWS, Tokyo – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan peluang pemulihan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) masih terbuka, dengan syarat Washington menghentikan sikap permusuhan terhadap Pyongyang.
Pernyataan itu disampaikan Kim dalam kongres Partai Pekerja Korea (WPK) yang digelar lima tahunan dan ditutup dengan parade militer pada Rabu (26/2) malam. Laporan tersebut dikutip dari Korean Central News Agency (KCNA), Kamis, 26 Februari 2026.
Dalam pidatonya, Kim menegaskan Korea Utara siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk konfrontasi dengan AS.
“Kita sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi dengan AS di masa depan,” ujarnya.
Namun ia menambahkan, jika AS menghentikan kebijakan permusuhan, maka tidak ada alasan bagi kedua negara untuk tidak menjalin hubungan yang lebih baik. Menurut Kim, arah hubungan bilateral sepenuhnya bergantung pada sikap Washington.
“Koeksistensi damai ataupun konfrontasi abadi, kita siap menghadapi segalanya, dan pilihan tersebut tidak ditentukan oleh kita,” kata Kim seperti dikutip KCNA.
Presiden AS, Donald Trump, dalam sejumlah kesempatan menyatakan kesiapannya melanjutkan dialog dengan Kim setelah kembali menjabat pada Januari tahun lalu.
Keduanya tercatat tiga kali bertemu pada periode 2018–2019. Namun, perundingan denuklirisasi antara Washington dan Pyongyang kala itu tidak berlanjut.
Di sisi lain, Kim menegaskan tekad partainya untuk terus memperluas dan meningkatkan kekuatan nuklir nasional sebagai bagian dari strategi deterensi.
Terkait hubungan antar-Korea, Kim menegaskan Pyongyang tidak akan mengakui Seoul sebagai saudara sebangsa dan tetap memandangnya sebagai “negara yang sangat bermusuhan dan musuh abadi”.
Ia juga menolak pendekatan rekonsiliasi Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang menurutnya sebagai “lelucon yang kikuk dan menipu”.
Sejak menjabat pada Juni tahun lalu, Lee mengambil langkah meredakan ketegangan dengan Korea Utara dan mengakhiri pendekatan konfrontatif pemerintahan sebelumnya.
Sementara itu, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan keprihatinan atas sikap Pyongyang yang terus menganggap Seoul sebagai negara musuh. Pemerintah Korea Selatan, kata kementerian tersebut, tetap berkomitmen mendorong koeksistensi damai di Semenanjung Korea.
Menurut laporan KCNA, parade militer yang digelar di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, tidak menampilkan persenjataan strategis berskala besar seperti rudal balistik antarbenua (ICBM).
Parade tersebut juga dilaporkan diikuti personel militer Korea Utara yang ditugaskan membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Pernyataan terbaru Kim memperlihatkan dua pesan sekaligus: membuka ruang diplomasi dengan AS, namun tetap menegaskan penguatan kapasitas militer sebagai fondasi utama kebijakan keamanan Korea Utara.
ANTARA









