BORNEONEWS, Pontianak – Perusahaan energi nuklir asal Rusia, Rosatom, menawarkan investasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat dengan dua pilihan teknologi yang diklaim aman, modern, dan ramah lingkungan.
Perwakilan Rosatom, Anna Belokoneva, menyampaikan pihaknya memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan PLTN yang telah diterapkan di berbagai negara seperti Turki, China, Mesir, dan India. Teknologi tersebut, kata dia, telah memenuhi standar keselamatan internasional dan terus dikembangkan mengikuti pembelajaran dari berbagai insiden nuklir global.
Dalam pertemuan bersama jajaran Pemerintah Provinsi Kalbar di Pontianak, Jumat, 27 Februari 2026, Rosatom menawarkan dua opsi reaktor, yakni reaktor modular besar dengan kapasitas hingga 1.200 megawatt serta reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) berkapasitas sekitar 100 megawatt.
Menurut Anna, pilihan teknologi tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan energi Indonesia. Khusus untuk SMR, Rosatom juga menawarkan konsep PLTN terapung yang disebut telah beroperasi di Rusia selama tujuh tahun dan dinilai cocok untuk wilayah pesisir maupun daerah terpencil yang jauh dari pusat pembangkit listrik.
Ia menegaskan sistem keamanan yang diterapkan bersifat pasif dan berlapis, dirancang untuk meminimalkan risiko dalam berbagai kondisi darurat. Rosatom, lanjutnya, juga telah mempelajari berbagai kasus kecelakaan nuklir dunia, termasuk insiden Fukushima di Jepang, sebagai bagian dari peningkatan standar keselamatan.
Selain aspek keamanan, Rosatom mengklaim listrik dari PLTN relatif lebih efisien dalam jangka panjang karena mampu memproduksi energi dalam skala besar dengan biaya operasional yang stabil. Meski demikian, keputusan pembangunan PLTN sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia sesuai regulasi yang berlaku.
Rosatom menyebut pihaknya mengetahui adanya rencana pengembangan sejumlah tapak PLTN di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat, sehingga menawarkan kerja sama sebagai dukungan terhadap strategi ketahanan energi nasional.
Di kesempatan yang sama, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memperkenalkan teknologi Rusia sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk di sektor industri pengolahan aluminium dan pendidikan.
Ia menilai respons awal dari Pemerintah Provinsi Kalbar cukup positif sebagai langkah penjajakan. Namun, realisasi proyek tetap bergantung pada keputusan resmi Pemerintah Indonesia dan kesiapan daerah.
Penawaran ini menjadi salah satu opsi dalam pengembangan energi di Kalimantan Barat yang selama ini didorong memperkuat ketahanan listrik sekaligus mendukung hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di wilayah tersebut.
ANTARA









