PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Indonesia atau Aspekpir Indonesia menggelar Workshop Inovasi Sawit untuk Perempuan di Kabupaten Muaro Jambi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan kapasitas petani serta pelaku UMKM kelapa sawit melalui pengembangan produk turunan bernilai tambah.

Workshop tersebut mengangkat berbagai peluang pemanfaatan kelapa sawit, tidak hanya sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk industri. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami potensi ekonomi dari pengolahan sawit yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif.

Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa minyak sawit dan turunannya banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan perawatan tubuh. Kandungan sawit dinilai memiliki sifat melembapkan, melembutkan, serta mampu membersihkan sekaligus menstabilkan tekstur berbagai produk perawatan.

Sejumlah turunan sawit yang umum digunakan antara lain asam palmitat dan asam stearat sebagai emolien serta pembentuk tekstur krim. Selain itu terdapat gliserin yang berfungsi sebagai humektan untuk menjaga kelembapan kulit, serta SLS dan SLES yang digunakan sebagai bahan pembersih dan pembentuk busa pada sabun maupun sampo. Sawit juga menghasilkan tocotrienol atau vitamin E alami yang berperan sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari radikal bebas.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai industri kelapa sawit. Selain meningkatkan keterampilan, workshop tersebut juga diharapkan mampu mendorong tumbuhnya UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan yang mandiri, inovatif, serta memiliki daya saing di pasar.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah, Region Head PTPN IV Regional IV Jambi Khayamuddin Panjaitan, Camat Sungai Bahar Agus Riyadi, serta Ketua DPD I Aspekpir Jambi Roy Asnawi. Materi dan praktik dipandu oleh dr. Irdawati Novita, Dr. Duta Setiawan dari Fakultas Pertanian Universitas Tanjung Pura, serta Ilham Setiadi yang merupakan eksportir lidi sawit.

"Dalam workshop ini, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik langsung pembuatan produk berbahan sawit," kata Helmi dalam rilisnya pada Minggu, 1 Maret 2026.

Beberapa di antaranya pembuatan fresh care dari minyak sawit, snack stik dari umbut sawit, serta pengolahan lidi sawit yang siap dipasarkan hingga ekspor.

Selain keterampilan produksi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi pemasaran, teknik pengemasan, hingga penguatan branding produk.

"Diharapkan, kemampuan tersebut dapat membantu pelaku usaha memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas sawit Indonesia," katanya. (TESTI PRISCILLA/j)