KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Pemerintah Kota Banjarmasin terus menggencarkan berbagai langkah strategis untuk menanggulangi persoalan sampah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar kota berjuluk Seribu Sungai tersebut. Melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, salah satu terobosan terbaru yang dijalankan adalah peluncuran Program 1.582 Agen 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang resmi dimulai sejak Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Februari 2026.

Program 1.582 Agen 3R ini dibentuk hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT) di seluruh wilayah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para agen bertugas mengedukasi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dari sumbernya, sekaligus menjadi ujung tombak pengurangan volume sampah rumah tangga sebelum masuk ke tempat pembuangan akhir.

Dalam rilis akun resmi Pemkot Banjarmasin, Wali Kota Muhammad Yamin HR, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Menurutnya, perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut. 

“Sebanyak 1.582 Agen 3R di seluruh Kota Banjarmasin harus didukung seluruh stakeholder. Tantangan terbesar kita adalah mengubah kebiasaan masyarakat, terutama yang tinggal di tepian sungai,” tegasnya dalam giat Safari Ramadan, Minggu, 1 Februari 2026 

Ia menambahkan, agen 3R, Rumah Pilah, dan bank sampah akan terus dioptimalkan agar mampu bekerja maksimal. Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, khususnya ke aliran sungai yang selama ini memperparah pencemaran dan sedimentasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Banjarmasin, Dwi Nanik, menyampaikan bahwa program tersebut terinspirasi dari sistem pengelolaan sampah di Jepang. Ia menjelaskan bahwa sekitar 50 persen sampah di Banjarmasin merupakan sampah organik yang sejatinya bisa diselesaikan di tingkat rumah tangga tanpa harus diangkut ke truk sampah.

“Di Jepang, sampah organik tidak lagi masuk ke truk pengangkut karena sudah diselesaikan di rumah melalui pengolahan mandiri. Konsep inilah yang ingin kita terapkan secara bertahap di Banjarmasin,” jelasnya. Menurutnya, jika pemilahan dilakukan sejak awal, maka beban pengangkutan dan penumpukan di TPA dapat ditekan secara signifikan.

Selain edukasi dan pembentukan agen di tingkat RT, Pemkot juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan DPRD serta partisipasi aktif masyarakat dan pelaku usaha. Pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif karena langsung menyentuh perilaku warga dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan langkah konkret ini, Pemkot Banjarmasin berharap persoalan sampah yang telah lama menjadi sorotan dapat tertangani secara bertahap dan berkelanjutan. Melalui semangat gotong royong dan kesadaran kolektif, kota ini ditargetkan mampu bertransformasi menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan di masa mendatang. (SABRIANOOR/j)