BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selama 2016 sektor komoditas mengalami tekanan, kecuali untuk minyak sawit dan logam, yang terlihat dari jatuhnya harga yang cukup dalam dan menurunnya permintaan di tengah volatilitas dan lesunya pasar global.
Pada semester pertama 2016, harga minyak sawit mentah (CPO), timah dan emas membaik, tapi tidak dengan harga karet dan juga harga minyak mentah.
Meskipun demikian, beberapa penggerak supply-demand telah mengangkat harga beberapa komoditas pilihan hingga memasuki kuartal ketiga tahun ini, dan kondisi ini diharapkan menjadi batu pijakan bagi pemulihan harga pada 2017.
Selama tahun ini, seperti layaknya banyak komoditas lainnya di pasar dunia, minyak sawit juga terdampak oleh fenomena El Nino dan La Nina, menurunnya permintaan di pasar global, isu geo-politik dan fluktuasi mata uang.
El Nino bahkan sudah mengganggu pasokan CPO hingga rata-rata 12% di Malaysia, yang kemudian memicu gejolak harga dan permintaan global telah melampaui pasokan. Harga CPO bergerak di kisaran antara RM2.450 per ton pada semester pertama 2016 dan RM2.650 pada semester berikutnya.
Pada tahun ini, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) memberikan tekanan pada para pemasok minyak sawit dengan menunda atau membuat sejumlah pemasok mencabut produk mereka dari rantai pasok pembeli. Reaksi cepat dari segmen yang memicu harga premium bagi produk-produk RSPO telah menyebabkan lonjakan harga hingga lebih dari 100%.
Volatilitas ringgit juga berperan dalam mendongkrak harga minyak sawit, selain juga sejumlah faktor supply-demand.
Sementara itu, minyak sawit Malaysia diproyeksi akan mengalami kontraksi 10% dalam hal produksi tahun ini menjadi 17,8 juta ton setelah para produsen masih akan berjuang akibat rendahnya produksi sebagai dampak El-Nino pada 2015 di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Analis terkemuka yang juga direktur eksekutif ISTA Mielke GmbH, Thomas Mielke, mengatakan produksi minyak sawit akan pulih di Malaysia tahun depan, meski agak lambat.
“Industri ini harus menunggu hingga 2018 untuk melihat produksi kembali normal menyusul dampak dari kekeringan panjang akibat fenomena El Nino,” katanya kepada Kantor Berita Malaysia, Bernama.
Mielke juga memperkirakan harga minyak sawit akan menguat dalam waktu dekat dengan kisaran RM2.900 hingga RM3.000 per ton.
Rendahnya stok minyak sawit, pasokan ekspor dan lambannya pemulihan produksi, membuat harga CPO bergerak hingga level tertinggi RM3.098 per ton pada 2016, dibandingkan RM2.508 pada tahun lalu. (NEDELYA RAMADHANI/m)








