RAMADAN bukan hanya dikenal sebagai bulan diwajibkannya puasa, tetapi juga sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an. Dalam khazanah Islam, Ramadan disebut syahrul shiyam (bulan puasa) sekaligus syahrul qur’an (bulan Al-Qur’an). Kedua sebutan ini saling melengkapi: puasa menumbuhkan ketakwaan, sementara Al-Qur’an menjadi pedoman yang mengarahkan dan membimbing ketakwaan tersebut.
Ramadan sebagai Titik Awal Gerakan Literasi
Secara sejarah, wahyu pertama turun pada bulan Ramadan. Peristiwa ini menjadi fondasi lahirnya tradisi literasi dalam Islam. Perintah “membaca” pada wahyu pertama menunjukkan bahwa peradaban Islam bertumpu pada budaya ilmu dan literasi.
Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa kitab suci ini merupakan petunjuk (hudan) bagi manusia (QS Al-Baqarah: 2 dan 185). Artinya, membaca Al-Qur’an tidak cukup dimaknai sebagai ritual semata, melainkan sebagai upaya memahami tuntunan hidup. Oleh sebab itu, Ramadan menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperkuat kembali kebiasaan membaca, mengkaji, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an.
Hakikat Literasi Al-Qur’an
Literasi Al-Qur’an tidak hanya berarti mampu melafalkan ayat-ayatnya dalam bahasa Arab. Ia mencakup tiga unsur penting:
1. Tilawah – Membaca ayat dengan tartil dan sesuai kaidah.
2. Tadabbur– Menyelami makna serta pesan yang terkandung di dalamnya.
3. Pengamalan – Mewujudkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam tindakan nyata.
Dengan demikian, literasi Al-Qur’an adalah proses berkesinambungan yang menyatukan hati, pikiran, dan perilaku. Ramadan menghadirkan suasana batin yang kondusif untuk itu—melalui tadarus, kajian tafsir, dan peningkatan ibadah.
Tantangan Setelah Ramadan
Kenyataannya, semangat membaca Al-Qur’an sering kali memuncak hanya di bulan Ramadan. Masjid dan rumah dipenuhi lantunan ayat suci, namun setelah Ramadan usai, intensitas tersebut berkurang.
Padahal, Ramadan seharusnya menjadi awal pembentukan kebiasaan yang konsisten (istiqamah). Membaca beberapa ayat setiap hari secara rutin jauh lebih utama daripada membaca banyak tetapi jarang. Konsistensi inilah yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Dalam Al-Qur’an (QS Al-Isra: 82), Allah menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah penawar dan rahmat bagi orang beriman. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin besar pula dampak kebaikan yang ia rasakan, baik secara spiritual maupun moral.
Tiga Sikap terhadap Al-Qur’an
Al-Qur’an juga menjelaskan adanya tiga golongan manusia dalam menyikapi kitab suci (QS Fathir: 32):
1. *Zalimum linafsihi* – Mereka yang membaca tetapi tidak mengamalkan, sehingga merugikan diri sendiri.
2. *Muqtashidun* – Golongan pertengahan yang terkadang mengamalkan, namun belum konsisten.
3. *Sabiqun bil khairat* – Orang-orang yang berlomba dalam kebaikan; rajin membaca, memahami, dan mengamalkan secara istiqamah.
Ramadan mengajak setiap Muslim untuk bertransformasi menjadi golongan sabiqun bil khairat, yakni pribadi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup secara menyeluruh.
Upaya Memperkuat Literasi Al-Qur’an
Agar semangat Ramadan tetap terpelihara sepanjang tahun, beberapa langkah dapat ditempuh:
* Menentukan target bacaan harian walau sedikit.
* Mengikuti kajian tafsir untuk memperdalam pemahaman.
* Melakukan muhasabah atas ayat yang dibaca.
* Mengintegrasikan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial dan pekerjaan.
Penutup
Bagi kalangan pendidik dan pegiat literasi, Ramadan bisa menjadi momentum untuk menggerakkan program tadarus, sudut baca Al-Qur’an, maupun diskusi tematik yang berlandaskan ayat-ayat suci.
Penulis/Jurnalis Warga: Relima Perpusnas RI, Waket PD.IPI Seruyan, Ketua TBM Grup Literasi Gawi Hatantiring Seruyan, Kepus Cendekia SMP Tunas Agro









