BORNEONEWS, Sampit – Warga di Jalan Iskandar 30, sekitar Pelabuhan H Asli, resah akibat kemunculan buaya yang diduga lebih dari satu ekor di kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Predator air tersebut dilaporkan kerap terlihat di sekitar perairan pelabuhan yang menjadi pusat aktivitas buruh dan anak buah kapal (ABK).
Seorang warga, Andi, yang rumahnya berada tepat di belakang lokasi kemunculan buaya, mengaku tidak menyaksikan langsung peristiwa itu. Namun ia mendapat cerita dari penjaga malam pelabuhan.
"Yang melihat langsung itu penjaga malam, namanya Agus. Katanya buayanya besar, diduga lagi menyantap bangkai ayam," ujar Andi, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut Andi, kemunculan buaya sempat direkam oleh penjaga malam tersebut. Dari rekaman dan informasi yang beredar di kalangan warga, muncul dugaan bahwa jumlah buaya di sekitar pelabuhan bisa lebih dari satu ekor.
Warga juga menduga sumber makanan buaya kemungkinan berada di sekitar kolong pelabuhan, sehingga satwa tersebut beberapa kali terlihat muncul di lokasi yang sama.
"Bisa jadi di bawah pelabuhan saja itu. Makanya kami khawatir, karena di sini buruh sering mandi di sungai. Bahkan ada juga warga yang mandi malam," katanya.
Kawasan tersebut memang berada di tepian Sungai Mentaya, yang dikenal sebagai habitat alami buaya muara. Buaya diduga datang dari arah hilir Sungai Mentaya. Awalnya, kemunculan satwa itu dianggap hanya melintas. Namun belakangan diketahui buaya tersebut beberapa kali singgah dan terlihat berulang, terutama menjelang waktu subuh.
"Kemunculannya akhir-akhir ini sering, biasanya momen mau subuh. Dulu buruh angkut dan ABK memang sering mandi, tapi setelah diberitahu ada buaya, aktivitas itu mulai dikurangi," tambah Andi.
Meski sebagian aktivitas mandi di sungai sudah mulai dikurangi, kawasan pelabuhan tetap ramai oleh pekerja dan warga setiap hari.
Warga berharap ada langkah konkret dari pihak terkait, seperti pemasangan papan peringatan dan patroli rutin di sekitar pelabuhan. Mereka khawatir jika tidak ada tindakan pencegahan, keberadaan buaya dapat membahayakan keselamatan masyarakat. Apalagi, kawasan Pelabuhan H Asli masih menjadi titik vital aktivitas bongkar muat dan sandar kapal di Sampit. (DEWI PATMALASARI/j)









