BORNEONEWS, Sampit – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sampit menegaskan komitmennya dalam menyiapkan warga binaan agar lebih mandiri dan produktif saat kembali ke masyarakat. Lapas di Kabupaten Kotawaringin Timur ini tak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga pusat pembinaan keterampilan kerja.
Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, mengatakan pembekalan keterampilan menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan.
“Kami ingin keterampilan yang didapat warga binaan bisa menjadi bekal nyata setelah mereka bebas nanti,” ujarnya, Rabu, 4 Maret 2026
Dalam menjalankan program tersebut, Lapas Sampit bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur guna memperluas akses pelatihan dan pendampingan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Beragam pelatihan telah digelar, mulai dari menjahit, kerajinan tangan, budidaya ikan, hidroponik, pembuatan batako, hingga pertukangan. Setiap kegiatan menghadirkan instruktur berpengalaman dan dilengkapi praktik langsung agar peserta benar-benar menguasai keterampilan yang diajarkan.
Tak sekadar pelatihan, beberapa program bahkan diarahkan menjadi unit usaha internal yang menghasilkan nilai ekonomi. Dengan begitu, warga binaan tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan proses produksi dan manajemen kerja secara langsung.
Salah satu program yang kini kembali diintensifkan adalah pelatihan menjahit. Menariknya, peserta tidak hanya dari warga binaan perempuan, tetapi juga laki-laki. Meski saat ini dibimbing oleh satu tahanan pendamping (tamping) yang telah lebih dulu terlatih, hasil produksi dinilai cukup maksimal.
Didukung peralatan yang memadai, berbagai kebutuhan jahit mampu diselesaikan dengan rapi dan berkualitas. Proses pengerjaan dilakukan secara teliti, mulai dari pengukuran bahan, pemotongan kain, hingga tahap akhir penyelesaian.
Menurut Yani, kegiatan ini bukan sekadar mengasah kemampuan teknis. Lebih dari itu, pelatihan membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa percaya diri warga binaan.
Melalui pembinaan kemandirian ini, Lapas Sampit berupaya memastikan para warga binaan memiliki keterampilan produktif yang bisa dikembangkan menjadi usaha setelah bebas, sehingga peluang untuk kembali berkonflik dengan hukum dapat ditekan.









