JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menepis klaim Amerika Serikat yang menyebut peluncuran rudal Iran mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Boroujerdi, Iran masih memiliki persediaan rudal dan amunisi yang besar, serta jaringan produksi persenjataan konvensional yang tetap berjalan aktif di negaranya.

“Kami bukan hanya memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak, tetapi pada saat bersamaan jaringan produksi persenjataan konvensional di negara kami juga berlangsung aktif,” kata Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa intensitas peluncuran rudal Iran menurun hingga 86 persen dan peluncuran drone turun sekitar 73 persen dalam empat hari terakhir.

Seorang pejabat Barat juga menyebut penurunan tersebut diduga terjadi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan lokasi peluncuran serta fasilitas produksi rudal Iran.

Namun, Boroujerdi menilai klaim tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya karena kekuatan militer suatu negara tidak mudah diketahui pihak lain.

“Tentu tidak ada yang mengetahui secara persis seberapa kekuatan rudal dan berapa jumlahnya dari setiap negara. Hanya medan perang yang akan menentukan siapa yang akan habis amunisi. Amerika itu hanya ingin menyampaikan cita-citanya saja,” ujarnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu disebut sebagai operasi kedua setelah serangan serupa yang terjadi pada Juni 2025.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk melindungi kepentingan negaranya dengan meniadakan ancaman yang disebut berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

Menanggapi serangan itu, Iran kemudian meluncurkan serangan balasan berupa rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini terjadi di tengah berlangsungnya perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa yang dimediasi oleh Oman.

ANTARA