BORNEONEWS, Palangka Raya - Hampir seluruh masyarakat kalimantan tengah (Kalteng) merasa hidup di tengah lumbung energi tetapi sering terjadi krisis energi, seperti listrik. Namun tidak bagi Presiden RI Joko Widodo. Tidak ada istilah pengerukan sumber daya alam (SDA) lalu diangkut ke pulau lain guna menghidupkan energi listrik di pulau lain tersebut.
Menurut Jokowi, tidak hanya Kalteng yang mengalami defisit listrik melainkan hampir semua provinsi dan kabupaten mengalaminya.
“Jangan merasa hanya di Kalteng saja. Di semua daerah, setiap saya datang itu yang dikeluhkan selalu saja listrik yang kurang dan byar-pet terus,” kata Jokowi usai acara jalan-jalannya bersama istri dan anaknya di Hypermart Selasa (20/12/2016) malam.
Kunjungan Jokowi pada siangnya memang dalam rangka menghadiri puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tingkat nasional di Palangka Raya. Jokowi juga meletakkan batu pertama pembangunan pabrik kayu lapis untuk mengakomodir hutan tanaman rakyat (HTR) serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Pulang Pisau.
Lanjut Jokowi, ia tidak ingin warga di suatu daerah yang seakan mengibaratkan hidup dilumbung kaya energi tapi selalu sering mati listrik. Ia justru lebih menekankan agar publik mendukung programnya mengadakan pembangkit sebesar 35 ribu Mega Watt (MW) di Indonesia agar kecukupna daya listrik terpenuhi.
”Jadi tidak hanya di Kalteng saja yang merasakan demikian. Di semua provinsi dan kabupaten kita kekurangan listrik. Karena itu yang 35 ribu MW itu betul-betul harus dikejar. Kalau itu tidak dikejar, ya sampai kapan pun di semua provinsi tetap seperti yang kita lihat. Sekali lagi jangan merasa terjadi di Palangka Raya saja. Ini saya harus ngomong apa adanya,” tandas mantan Walikota Solo itu menekankan. (ROZIKIN/m)








