BORNEONEWS, Palu – Temuan megalit di Desa Dongi-Dongi, Sulawesi Tengah, diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun. Perkiraan tersebut disampaikan oleh arkeolog Sulawesi Tengah Iksam Djorimi berdasarkan pola penyebaran situs megalit di wilayah tersebut.
“Perkiraan usia megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi sekitar 1.000 tahun,” kata Iksam saat dihubungi dari Palu, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, penyebaran situs megalit di Sulawesi Tengah berawal dari kawasan Lembah Behoa dan Bada di Kabupaten Poso, kemudian menyebar ke arah utara hingga wilayah Lembah Palu.
Menurutnya, situs megalit di Lembah Behoa dan Bada diperkirakan lebih tua, dengan usia mencapai sekitar 2.000 tahun.
“Semakin ke arah utara dari Lembah Behoa, usia megalit cenderung lebih muda,” ungkap mantan Wakil Kepala Museum Sulawesi Tengah tersebut.
Ia menambahkan, karakter megalit di Lembah Palu juga berbeda dengan yang ditemukan di kawasan Lembah Behoa. Di wilayah tersebut tidak ditemukan kalamba atau patung batu besar seperti yang banyak terdapat di Poso.
Sebaliknya, di Lembah Palu lebih banyak ditemukan lesung batu, salah satunya di Desa Watunonju, Kabupaten Sigi.
Megalit sendiri merupakan struktur atau monumen prasejarah yang dibuat menggunakan batu berukuran besar, baik berupa satu batu tunggal maupun susunan batu. Struktur ini berkembang sejak zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu.
Pada masa lalu, megalit umumnya digunakan sebagai penanda kubur, tempat ritual keagamaan, atau sarana pemujaan terhadap leluhur. Bentuknya beragam, seperti menhir, dolmen, hingga sarkofagus.
Adapun megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi berupa batu berukuran besar dengan pahatan yang menyerupai wajah manusia. Bentuknya disebut mirip dengan batu kalamba yang banyak ditemukan di kawasan Lembah Napu.
ANTARA









