PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kerajinan getah nyatu telah lama dikenal sebagai ikon buah tangan khas Kalimantan Tengah. Mulai dari miniatur perahu, burung tingang, hingga talawang (perisai Dayak), produk ini selalu menjadi primadona bagi wisatawan.

Namun, di balik popularitasnya, warisan budaya masyarakat Dayak ini sedang menghadapi tantangan serius yang mengancam keberlangsungannya.

Budayawan Kalimantan Tengah, Dr Effrata Spd,.Msi,. menekankan bahwa kerajinan ini memiliki posisi penting baik sebagai warisan budaya maupun produk ekonomi kreatif yang potensial. 

"Kerajinan ini dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi perajin," ujarnya, Sabtu, 7 Maret 2026

Menurut Effrata, ada beberapa persoalan mendasar yang menghambat sektor ini, Kelangkaan Bahan Baku: Pohon nyatu semakin sulit ditemukan akibat alih fungsi lahan hutan. Kondisi ini memaksa perajin mencari bahan baku hingga ke lokasi yang lebih jauh.

Minat Generasi Muda Proses pembuatan yang rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi, mulai dari perebusan getah hingga pembentukan manual, membuat minat generasi muda untuk mempelajari teknik ini masih rendah.

Kapasitas Produksi: Metode pembuatan yang masih tradisional menyulitkan peningkatan kapasitas produksi secara cepat meskipun permintaan pasar tetap ada.

Untuk menjaga keberlanjutan kerajinan ini, Effrata menyarankan beberapa langkah strategis yang perlu diambil seperti 

Budi Daya Berbasis Masyarakat: Mengelola kebun bibit pohon nyatu melalui komunitas atau desa untuk menjamin pasokan bahan baku jangka panjang.

Inovasi Desain: Mendorong perajin agar tidak hanya membuat bentuk tradisional, tetapi juga produk fungsional dan modern agar lebih menarik bagi pasar anak muda dan wisatawan global.

Digitalisasi dan Story telling: Memanfaatkan platform digital dengan mengedepankan narasi (story telling) tentang budaya Dayak dan kelestarian hutan guna meningkatkan nilai jual produk sebagai barang premium.

Penguatan Kelompok Perajin: Mempermudah akses permodalan, teknologi pengolahan, serta pelatihan desain bagi para perajin.

Pendidikan Budaya: Memasukkan kerajinan getah nyatu ke dalam kurikulum lokal atau kegiatan lokakarya bagi generasi muda.

"Tanpa upaya pelestarian yang serius, ia khawatir kerajinan yang selama ini menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Dayak, berpotensi semakin tergerus oleh perubahan zaman," tutupnya. (PATHUR/j)