PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Jakarta – Pemerintah meresmikan Medical Learning and Research Center (MeRC) di Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah, sebagai upaya memperkuat fasilitas riset medis sekaligus meningkatkan ketersediaan tenaga dokter di Indonesia.

Peresmian gedung tersebut dilakukan pada Kamis (5/3) dan menjadi bagian dari strategi nasional dalam pengembangan pendidikan kedokteran serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan pembangunan fasilitas riset medis modern ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penyelesaian fisik bangunan, tetapi juga diikuti dengan aktivitas akademik yang memberikan solusi bagi masyarakat.

“Peresmian ini penting sebagai penanda selesainya pembangunan fisik. Namun yang lebih substansial adalah aktivitas di dalamnya. Kampus harus menjadi problem solver dan benteng moral,” kata Fauzan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026.

Ia menekankan perguruan tinggi harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta tidak menjadi entitas eksklusif yang terpisah dari kebutuhan publik.

Sementara itu, Rektor UPR Salampak menjelaskan Gedung MeRC dibangun menggunakan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan dirancang sebagai pusat riset yang memanfaatkan potensi kekayaan alam Kalimantan.

Menurutnya, fasilitas tersebut tidak hanya digunakan oleh Fakultas Kedokteran, tetapi juga dapat diakses oleh berbagai program studi serta mitra eksternal.

“Fokus riset kami antara lain penyakit tropis, kesehatan di wilayah gambut dan rawa sesuai Pola Ilmiah Pokok UPR, serta pengembangan biofarmaka,” ujarnya.

Selain itu, keberadaan MeRC juga diharapkan menjadi penunjang utama bagi UPR untuk membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan program profesi apoteker dalam waktu dekat.

Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo menyambut baik peresmian fasilitas tersebut sebagai bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang kesehatan.

Ia menegaskan Pemprov Kalteng berkomitmen mendukung mahasiswa kedokteran agar tidak terkendala biaya pendidikan.

“Salah satunya melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana dengan target 10.000 mahasiswa penerima bantuan biaya pendidikan dan beasiswa,” kata Edy.

Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan pembangunan gedung pendukung spesialis kebidanan di RSUD Doris Sylvanus guna menunjang praktik klinis mahasiswa kedokteran.

Peresmian MeRC ditandai dengan penandatanganan prasasti serta peninjauan fasilitas laboratorium yang diharapkan menjadi pusat pengembangan sains dan teknologi kesehatan di wilayah Indonesia bagian tengah.