PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Jagat maya, khususnya platform media sosial TikTok, tengah diguncang fenomena pergeseran ekspresi gender yang menampilkan sekelompok laki-laki dengan gaya feminin ekstrem.

Fenomena yang akrab dengan sebutan "boti" di kalangan netizen ini kini menjadi diskursus hangat di tengah masyarakat Kota Palangka Raya.

Masifnya unggahan video yang menunjukkan perilaku, gestur, hingga busana yang menyerupai wanita tersebut memicu polarisasi opini yang tajam. Meski sebagian pihak berlindung di balik narasi kebebasan berekspresi, mayoritas masyarakat mulai menyuarakan kekhawatiran kolektif.

Terdapat ketakutan akan adanya degradasi moral serta dampak psikologis jangka panjang bagi Generasi Z dan Generasi Alfa yang terpapar konten tersebut tanpa filter.

Menanggapi tensi sosial yang kian meningkat, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Tengah melalui Widiya Kumala Wati, atau yang akrab disapa Kak Yaya, memberikan peringatan keras.

Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar tren digital sesaat, melainkan sinyal bagi orang tua untuk memperketat benteng pengawasan di ranah domestik.

"Eksistensi fenomena ini secara visual dapat mengonstruksi persepsi anak-anak kita. Pengawasan orang tua tidak bisa lagi dilakukan dengan cara konvensional, melainkan harus lebih intensif dan adaptif terhadap arus media sosial," tegas Widiya, Minggu, 8 Maret 2026.

Lebih lanjut, Kak Yaya menekankan bahwa menangani anak yang mulai terpapar atau meniru perilaku tersebut memerlukan pendekatan psikologis yang taktis.

Ia sangat tidak menyarankan tindakan represif atau penggunaan kemarahan yang berlebihan, karena berisiko membuat anak semakin menjauh dari keluarga.

Sebaliknya, ia menyarankan pola asuh yang komunikatif dan edukatif Hadir sebagai Figur Tegas: Orang tua harus menjadi pendidik yang tenang namun tetap memiliki prinsip.

Kemudian mengarahkan minat anak pada kegiatan positif seperti olahraga, seni, atau pengembangan kreativitas. Membangun jati diri anak melalui aktivitas yang membangun rasa percaya diri sesuai identitasnya.

Widiya juga menyoroti pentingnya literasi mengenai batasan tubuh dan norma perilaku sejak dini. Baginya, pendampingan yang tepat adalah kunci agar anak tidak mengalami disorientasi dalam memandang jati diri mereka di masa depan.

"Kesadaran orang tua adalah kunci. Jika melihat indikasi perilaku yang mulai menyimpang dari norma, segera berikan edukasi mengenai batasan tubuh dan bagaimana cara berperilaku yang pantas sesuai kodratnya," pungkasnya. (PATHUR/H)