BORNEONEWS, Palangka Raya - Manajemen Rollaas Coffee dan Tea, di Jalan Antang, Palangka Raya angkat bicara terkait tewasnya mahasiswi semester V, Universitas Djuanda, Bogor, Jawa Barat, Sitroneli, 21, usai minum kopi Americano dan makan pizza, Minggu (18/12/2016) lalu.
Kuasa Hukum Rollaas Coffee dan Tea, Meitin Alfun mengatakan, sengaja baru memberikan tanggapan terkait pemberitaan selama ini karena menunggu keputusan tetap penyebab kematian Sitroneli. Bersadarkan hasil otopsi, korban meninggal dunia akibat paru kronis.
"Perlu digarisbawahi bahwa restoran ini tidak pernah memberikan sesuatu yang sifatnya negatif. Tidak ada mengandung alkohol. Izin restoran juga sah dan resmi. Bahkan kami selalu taat pada aturan. Kami tidak pernah membuka di luar dari jam yang ditetapkan pemerintah," kata Meitin didampingi Kasat Reskrim Polres Palangka Raya AKP Erwin T H Situmorang dalam jumpa pers, Kamis (22/12/2016).
"Kejadian yang menimpa kafe ini, memang betul terjadi di sini. Memang kita akui. Dan pada saat itu ada beberapa pengunjung yang datang yang salah satunya grup dari mahasiswi. Pada saat itu kita tidak tahu siapa mereka. Tahunya pengunjung kafe seperti lainnya yakni pesan makanan dan minuman," imbuhnya.
Dia menegaskan, menu yang disediakan adalah menu standar, higenis, halal dan tidak ada yang melanggar dari etika kesehatan.
"Atas kejadian tersebut, pihak pengelola manajer dan teman-teman staf serta pelayan disini segera memberikan pertolongan terhadap almarhumah dan langsung dilarikan ke RS Muhamadiyah. Namun sampai di sana, Tuhan berkata lain," ungkapnya.
Dia menambahkan, Sitroneli meninggal bukan karena kopi. Tapi akibat penyakit lama yang telah diderita korban. "Itu informasi yang kami dapatkan selama di RS," imbuh dia.
"Dengan ketulusan hati, kami atas nama pemilik, pengelola, seluruh manajemen dan teman-teman di sini mengucapkan turut berduka cita," tuturnya.
Sementara itu pengelola Rollaas Coffee dan Tea, Desta menambahkan, sebelum kejadian itu, almarhum bersama tiga temannya minum kopi dan makan pizza yang telah dipesan. "Pada saat itu, mereka sudah selesai membayar dan mau pulang. Namun karena gerimis, sehingga mereka menunggu hujan reda sambil foto-foto. Kemudian tidak lama, saya mendengar teriakan," katanya.
"Saya melihat posisi almarhum sudah muntah darah. Tapi muntah itu seperti tidak wajar. Keluar dari hidung dan mulut berupa gumpalan darah. Dan baru kali ini saya melihat muntahan darah yang tidak seperti biasa," jelas Desta.
Kemudian, lanjut dia, ia langsung membantu Sitroneli dan membawa ke RS Muhammadiyah. "Pada saat almarhum sudah masuk ke ruang tindakan IGD, saya sendiri menunggu kurang lebih 10 menit. Medis tanya siapa yang tanggung jawab. Kebetulan pada saat itu saya mengantar, dan diberitahu bahwa almarhum sudah tidak ada," jelas dia lagi.
Sementara itu, Erwin mengatakan, korban meninggal dunia tidak ada kaitannya dengan kopi. Tapi murni akibat penyakit menahun berupa batuk hingga menyebabkan paru kronis. "Setelah hasil otopsi keluar, ini tidak ada hubungannya dengan kopi. Rongga parunya memang sudah betul-betul putih. Hanya kebetulan disitu puncaknya," ujar Erwin.
Menurut Erwin, setelah diketahui tidak ada unsur tindak pidana, maka proses penyidikan kasus tersebut bakal dihentikan. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3). (BUDI YULIANTO/m)








