BORNEONEWS, Nanga Bulik – Gas elpiji subsidi 3 kg di sebagian wilayah Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, dilaporkan sulit didapat oleh masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Kelangkaan tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama untuk memasak.
Selain sulit ditemukan, harga gas elpiji 3 kilogram juga melonjak tajam. Di tingkat pengecer, harga satu tabung bahkan mencapai Rp50.000, jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah yang berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per tabung.
Sejumlah warga mengaku sudah dua hari terakhir tidak menemukan stok gas elpiji 3 kilogram di warung-warung pengecer. Kalaupun tersedia, jumlahnya sangat terbatas dan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
“Sejak awal Ramadan kami sudah sulit mendapatkan gas elpiji tiga kilogram. Di agen terlihat ada barang masuk, tapi biasanya hanya bertahan sehari. Ada beberapa warung yang menjual, namun harganya tinggi,” ujar Tari, Senin, 9 Maret 2026.
Salah seorang pedagang pengecer di Nanga Bulik mengatakan, kelangkaan terjadi karena pasokan dari agen yang tidak datang seperti biasanya. Akibatnya, stok di tingkat pengecer cepat habis karena banyaknya warga yang mencari gas bersubsidi tersebut.
“Kami juga bingung karena sudah beberapa hari tidak ada kiriman dari agen. Biasanya ada pasokan rutin, tapi sekarang kosong. Kalau ada yang menjual mahal kemungkinan karena stoknya sedikit sementara yang mencari banyak,” kata pedagang namanya enggan disebutkan.
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kelangkaan elpiji LPG 3 kg tersebut. Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera menindaklanjuti kondisi ini agar pasokan gas bersubsidi kembali normal dan harga di pasaran bisa kembali stabil. (NATALIA KRISTIN/j)








