JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington – Sejumlah senator dari Partai Demokrat Amerika Serikat mendesak dilakukannya penyelidikan terhadap serangan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Kota Minab, Iran.

Dalam pernyataan bersama yang disampaikan pada Senin, 9 Maret 2026, para senator tersebut menilai serangan itu kemungkinan melibatkan pasukan Amerika Serikat dan meminta Pentagon melakukan investigasi secara menyeluruh.

Pernyataan tersebut dipublikasikan melalui akun media sosial milik Senator Brian Schatz.

“Analisis independen secara kredibel menunjukkan bahwa serangan terhadap sekolah tersebut mungkin dilakukan oleh pasukan AS. Menteri Pertahanan harus memastikan penyelidikan yang dilakukan Departemen Pertahanan berjalan secara menyeluruh,” demikian isi pernyataan para senator.

Mereka juga meminta Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memastikan apakah terdapat keputusan kebijakan yang berkontribusi terhadap terjadinya serangan tersebut.

Selain itu, para senator mendesak pemerintah memberikan penjelasan terbuka kepada publik dan Kongres Amerika Serikat terkait kondisi yang melatarbelakangi insiden tersebut.

Menurut mereka, kejadian tersebut memicu kekhawatiran, terutama terkait pendekatan penggunaan kekuatan militer yang dinilai terlalu agresif.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh sejumlah senator senior, antara lain anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat Jeanne Shaheen, anggota utama Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat Jack Reed, serta Patty Murray, Mark Warner, Chris Coons, dan Brian Schatz.

Serangan tersebut dilaporkan terjadi pada hari pertama konflik yang pecah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebuah sekolah perempuan di Kota Minab dilaporkan terkena serangan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut sedikitnya 171 siswi tewas dalam insiden tersebut.

Menanggapi peristiwa itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan adanya pertanggungjawaban atas serangan yang menewaskan warga sipil tersebut.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban sipil.

Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pada awalnya, AS dan Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun belakangan, kedua negara juga menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Dalam operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serangan. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan deeskalasi dan penghentian konflik secepatnya.

ANTARA