JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai harga minyak dunia masih berpotensi melonjak hingga 130 dolar AS per barel apabila konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas.

Menurut Yayan, penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini hanya bersifat sementara karena dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang meningkatkan pasokan minyak ke pasar global.

“Penurunan harga ini terjadi karena AS mengeluarkan pasokan minyak dalam jumlah cukup besar. Namun kondisi ini hanya sementara,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.

Sebelumnya, harga minyak mentah Brent sempat menembus 118 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Juni 2022. Angka tersebut jauh di atas rata-rata harga pada Januari 2026 yang berada di kisaran 64 dolar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) sekitar 57,87 dolar AS per barel.

Namun pada perdagangan Selasa, harga minyak dunia sempat turun ke kisaran 80–85 dolar AS per barel setelah negara-negara G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi guna menekan lonjakan harga energi global.

Penurunan tersebut juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut operasi militer terhadap Iran sudah “very complete”, sehingga memunculkan spekulasi bahwa konflik dapat segera mereda.

Meski demikian, Iran menegaskan belum akan menyetujui gencatan senjata sebelum pihak yang menyerang mendapat balasan setimpal. Sikap tersebut dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan.

Yayan memperkirakan jika eskalasi perang meningkat, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran, maka kerusakan infrastruktur energi serta gangguan rantai pasok minyak global dapat terjadi.

“Jika konflik meningkat, rantai pasok energi bisa terganggu dan harga minyak berpotensi melonjak hingga sekitar 130 dolar AS per barel,” katanya.

Sejumlah lembaga energi global juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak. Bahkan dalam skenario ekstrem, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi jika pasokan dari kawasan Teluk terganggu.

Selain faktor geopolitik, Yayan menilai Amerika Serikat juga memiliki kepentingan strategis dalam menggeser sebagian pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat, dengan tujuan menekan harga energi pada pertengahan hingga akhir 2026.

Ia menambahkan harga minyak yang lebih rendah akan membuat biaya rantai pasok di Amerika Serikat menjadi lebih efisien.

ANTARA